Read Time:2 Minute, 16 Second

Harga komoditas batu bara mengalami koreksi kemarin setelah pekan lalu ditutup menguat. Merebaknya virus corona yang terjadi di China saat ini masih menjadi sentimen utama penggerak harga komoditas termasuk batu bara.

Pada penutupan perdagangan kemarin, Senin (17/2/2020) harga batu bara kontrak futures ICE Newcastle berada di level US$ 69,9/ton atau melemah 0,64% dibanding posisi penutupan pekan lalu.

Harga batu bara sempat naik karena China yang sedang terkena musibah akibat epidemi virus corona harus menutup operasi pertambangan batu baranya sehingga China menjadi lebih bergantung pada impor si batu hitam.

Dalam sebuah laporan ANZ memperkirakan jika produksi batu bara China turun 10% saja maka defisit yang harus ditambal mencapai 38 juta ton. Namun jika penurunan produksi Tiongkok meningkat menjadi 20% maka defisitnya bisa mencapai 115 juta ton.

“Pasar batu bara impor melalui jalur laut (seaborne) akan sangat tergantung pada kemampuan China untuk kembali beroperasi” kata para analis melansir Reuters.

”Kenaikan dalam permintaan batu bara impor melalui jalur laut terutama disebabkan oleh coronavirus [Covid-19]. Namun, kuantitas impor sangat kecil jika dibandingkan dengan produksi dalam negeri China. Harga batu bara (seaborne) akan kembali turun begitu produksi dilanjutkan dengan kapasitas penuh,” kata seorang analis yang berbasis di China timur, melansir Reuters.

Dia juga berpendapat bahwa pemerintah Cina akan melakukan langkah-langkah untuk memastikan pasokan domestik yang berkelanjutan.

“Setelah gelombang permintaan ini, harga impor akan kembali stabil menjadi lebih rendah dalam enam bulan ke depan karena China tidak bergantung pada batubara impor, kecuali selama keadaan darurat seperti [coronavirus],” katanya.

Harga batubara domestik Cina sedikit lebih tinggi karena wabah koronavirus telah mengganggu jadwal produksi tambang dan pengaturan transportasi. Tak bisa dipungkiri, produksi batu bara China menyumbang hampir separuh dari produksi batu bara global.

Sehingga ketika aktivitas ekonomi dan produksi batu bara kembali normal, impor batu bara China akan turun dan berpotensi kembali menekan harga si batu hitam ini.

Kini beralih ke India, ada sentimen negatif yang datang dari negeri Bolywood ini. Untuk pertama kalinya dalam satu dekade, output listrik yang dihasilkan dari pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar batu bara India mengalami penurunan pada 2019.

Menurut data pemerintah India, output listrik yang dihasilkan dari pembakaran batu bara termal pada 2019 turun menjadi 1,04 triliun unit dari sebelumnya 1,07 triliun unit. Tahun lalu India memang sedang mengalami kesulitan ekonomi.

Selain itu, Perdana Menteri Narendra Modi juga berencana untuk meningkatkan porsi energi terbarukan dalam kebijakan bauran energi di negaranya. Reuters melaporkan porsi energi terbarukan India pada 2030 ditargetkan mencapai 40% dari saat ini 23,3%.

India merupakan konsumen, importir dan produsen terbesar kedua batu bara setelah China. Jadi wajar saja kalau adanya indikasi India akan mengikuti langkah Eropa untuk mengupayakan sumber energi yang ramah lingkungan menjadi sentimen negatif untuk batu bara.

sumber; cnbcindonesia.com

0 0
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Top Navigation
Social profiles

has been added to your cart

View Cart
X
%d bloggers like this: