Pengenalan Tanaman Kopi

Mengenal Tanaman Kopi

posted in: Kebun Kopi | 0

Sebelum kita bercocok tanam kopi, terlebih dahulu kita harus mengenal bagaiamana sebenarnya pohon kopi tersebut. Sehingga dengan demikian kita bisa mengetahui dan dapat mencarikan hal-hal apa yang diperlukan untuk bercocok tanam kopi yang baik.

Misalkan saja kita bisa mencarikan tanah yang baik untuk bercocok tanam kopi, dan iklim yang bagaimana pula yang diperlukan oleh tanaman kopi dan sebagainya.

Maka untuk mengenal pohon kopi, kita bisa melihat dari beberapa sudut berikut:

A. Akar

Perakaran dalam pohon kopi ini relatif dangkal. Boleh dikatakan kalau lebih dari 90 persen, akar-akar kopi ini terdapat di lapisan tanah yang dalamnya hanya antara 0-30 cm. Disebabkan karena inilah maka tanaman kopi sangat peka terhadap kandungan bahan organik, perlakuan tanah dan juga terhadap saingan rumpai.

Struktur tanah yang baik sangatlah diperlukan untuk tanaman kopi, karena memang pohon ini sangat memerlukan oksigen.

 Mengenal Tanaman Kopi

Perakaran Tanaman Kopi

 Mengenal Tanaman Kopi

Perakaran Tanaman Kopi

Lalu yang kita ketahui lagi, kalau pertumbuhan akar di dalam tanah itu baik, maka dapat dipastikan menjadikan pertumbuhan pohon diatas baik juga. Sebab untuk pohon kopi ini antara berat akar dan bagian-bagian pohon diatas tanah/shoot terdapat korelasi yang positif.

Bila saja pertumbuhan akar tanaman ini terhambat, maka akan dapat mengakibatkan tanaman tersebut kelihatan kerdil. Hal itu biasanya karena kekurangan air atau kekurangan udara atau bahkan tergenang air.

B. Batang dan Cabang

Kopi memperlihatkan dimorfisma dalam pertumbuhan vegetatifnya.

–        pertumbuhan ortotropik (tegak)

–        pertumbuhan plagiotropik (kesamping)

Batang dan tunas-tunas air atau yang sering disebut dengan nama wiwilan, tumbuh ortotropik, sedang cabang plagiotropik.

Bagian tanaman yang tumbuh ortotropik dapat menghasilkan pertumbuhan ortotropik dan plagiotropik. Namun sebaiknya bagian yang tumbuh plagiotropik hanya bisa menghasilkan pertumbuhan plagiotropik dan tidak dapat menghasilkan ortotropik. Oleh karena itu, sambungan cabang atau stek cabang tidak dapat tumbuh ke atas, namun biasanya tumbuhnya terus menyamping.

 

Batang dan Dahan Tanaman Kopi

Pada ketiak daun batang terdapat 2 macam kuncup tunas yaitu:

  1. Kuncup tunas primair
  2. Hanya satu di bagian paling atas
  3. Dapat tumbuh menjadi cabang primair (cabang buah). Kecuali pada 2-5 pasang daun yang paling bawah.
  4. Kuncup tunas reproduksi
  5. Berjumlah 4-5 buah, terletak di bawah kuncup-kuncup primair.
  6. Dapat tumbuh menjadi tunas reproduksi (tunas air/wiwilan).

Kemudian pada setiap ketiak daun dapat tumbuh tunas reproduksi beberapa kali, akan tetapi cabang primair hanya terbentuk satu kali. Oleh karena itu buah terbentuk pada cabang-cabang primair maka cabang ini sangat penting artinya. Kemudian susunan tunas semacam ini juga terdapat pada ketiak-ketiak daun cabang primair dan dinamakan:

  1. Kuncup tunas sekunder
  2. Kuncup tunas reproduksi

Adalah berbeda dengan kuncup-kuncup tunas pada batang, kuncup-kuncup ini dapat tumbuh menjadi bunga. Namun pada umumnya pada setiap ruas hanya sekali berbentuk bunga, kecuali pada kopi Ekselsa.

Lalu pada cabang-cabang primair yang kuat pertumbuhannya, kuncup-kuncup tunas ini sebagian dapat menjadi cabang.

  1. Kuncup tunas sekunder dapat tumbuh menjadi cabang sekunder
  2. Kuncup tunas reproduksi dapat tumbuh menjadi cabang reproduksi, cabang cacing atau cabang balik.

C. Daun

Daun kopi ini tumbuh berhadapan dan berpasangan, baik itu yang tumbuh pada cabang maupun batang. Pada cabang, daun-daun itu berpasangan dan terletak pada satu bidang. Akan tetapi pada batang dan wiwilan pasangan-pasangan daun tersebut tak terletak pada satu bidang. Pasangan-pasangan daun tersebut akan terletak pada satu bidang. Pasangan-pasangan daun tersebut akan terletak pada bidang-bidang yang bersilangan. Kemudian yang perlu juga diketahui bahwa stomata atau mulut daun ternyata berbeda-beda dan ini menurut jenis kopi.

Jumah Stomata Pada Daun:

  1. Kopi Arabika memiliki jumlah stomata 148-185 per mm2.
  2. Kopi Liberika memiliki jumlah stomata 216-326 per mm2.
  3. Kopi Robusta memiliki jumlah stomata 302-388 per mm2.

Jumlah stomata persatuan luas daun juga dipengaruhi oleh intensitas cahaya. Menurut Alvim, makin besar intensitas cahaya maka makin besar/banyak jumlah stomata.

Daun kopi ini akan menjadi lebar, tipis dan lembek apabila intensitas cahaya terlalu sedikit. Dengan demikian maka performance daun juga dapat dipakai untuk mengontrol pengaturan naungan.

D. Bunga dan Buah

Bunga kopi ini akan terbentuk pada ketiak-ketiak daun dari cabang. Pada tiap ketiak akan terdapat 4-5 tandan. Untuk itu masing-masing akan terdiri dari 3 sampai 5 bunga. Hingga dengan demikian maka tiap ketiak akan dapat dibentuk antara 12 sampai 25 bunga, atau katakanlah 24 sampai 50 bunga per dompolannya.

Pada kopi arabika, pada umumnya jumlah tandannya akan lebih sedikit hingga dompolannya lebih kecil bila dibandingkan dengan jenis kopi robusta. Pada kondisi iyang optimal jumlah bunga ini bisa mencapai lebih dari 6000 sampai 8000 per pohon. Namun bunga yang bisa menjadi buah hingga masak biasanya hanya berkisar antara 30 sampai 50 persen.

Mahkota bunga berwarna putih, dengan jumlah mahkota yang berbeda-beda menurut jenis kopinya, yatu:

  1. Kopi Arabika memiliki 5 daun mahkota;
  2. Kopi Robusta memiliki 308 daun mahkota;
  3. Kopi Liberika memiliki 6-8 daun mahkota.

Juga demikian dengan panjang tangkai putiknya, ini pun menurut dari jenis kopinya.

  1. Kopi Arabika memiliki panjang tangkai putik yang lebih pendek apabila dibandingkan dengan benang sarinya;
  2. Kopi Robusta memiliki panjang tangkai putik yang lebih panjang apabila dibandingkan dengan benang sarinya;
  3. Kopi Liberika memiliki panjang tangkai putik yang lebih panjang apabila dibandingkan dengan benang sarinya.
 

Pohon Kopi yang Mulai Berbunga

 

Pohon Kopi yang Mulai Berbuah

Kemudian penyerbukan dari masing-masing jenis ini juga berbeda:

  1. Kopi Arabika, menyerbuk sendiri/Self Pollinator;
  2. Kopi robusta, menyerbuk silang/ Cross ollinator;
  3. Kopi Liberika, menyerbuk silang/Cross Pollinator.

Penyerbukan pada tanaman kopi ini biasanya dibawa oleh angin. Pembawaaan ini bisa sampai 100 meter dari pohon itu sendiri, namun sebenarnya yang paling baik hanyalah yang dibawa berjarak 35 meter dari pohon itu sendiri. Pada umumnya tanaman kopi ini akan mengeluarkan bunga pada umur 3 tahun dan kemudian nanti pada usia 4 tahun baru mulai berubah. Untuk bakal buah ini terletak dibawah dan berisikan dua bakal biji. Pada setiap buah kopi masih kelihatan bekas tempat daun mahkota.

Buah kopi ini menjadi masak dalam waktu antara 9 bulan sampai 1 tahun. Hal ini sebenarnya juga tergantung dari jenis kopi itu sendiri masing-masing:

  1. Kopi Arabika, masak pada 9-10 bulan;
  2. Kopi Robusta, masak pada 10-11 bulan;
  3. Kopi Liberika, masak pada 11-12 bulan;
  4. Hibrida Kawisari, masak pada 9-10 bulan;
  5. Hibrida Conuga, masak pada 10-11 bulan;
  6. Hbrida O.P. masak pada 11-12 bulan.

Kemudian perlu diketahui pula, bahwa pertumbuhan bakal buah ada kalanya juga mengalami kelainan, sehingga berubah menjadi:

  1. Kopi Lanang, (rondboon/ pea berry) hanya satu bakal buah yang berkembang;
  2. Kopi Gabuk (voosboon/ emty bean) bakal buah tidak berkembang;
  3. Kopi Gajah (elephant bean) terdapat lebih dari dua biji karena adanya poliembrioni.

Keadaan yang abnormal ini banyak terjadi pada jenis kopi Arabika, yaitu sering dijumpai poliembrioni dan polispermi. Dimana dalam satu buah terdapat lebih dari 2 endosperm/ berbiji banyak.

Pengolahan Biji Kopi

Pengolahan Biji Kopi

posted in: Kebun Kopi | 0

Buah kopi dipanen setelah masak, buah kopi masak biasanya pada sekitar bulan April/ Mei sampai bulan September/ Oktober. Untuk daerah-daerah basah sebaran panen dapat lebih merata bila dibandingkan dengan daerah-daerah kering, maka di daerah yang basah masa panennya lebih panjang yaitu dari April sampai Oktober. Buah kopi yang sudah masak akan berwarna merah, dan  harus dipetik satu persatu dari tiap tangkainya dengan giliran petik antara 2-3 minggu.

Pengolahan kopi adalah untuk memisahkan kopi dari dagingnya, kulit tanduk, dan kulit ari, hingga tinggal biji kopinya. Pengolahan ini secara garis besarnya dibagi menjadi 2 cara yaitu pengolahan kering dan pengolahan basah.

A. Pengolahan Kering

Cara pengolahan kering atau Oost Indische Bereiding ini  terdiri atas pengeringan, pengupasan dan sortasi. Pengeringan kopi gelondong dilakukan dengan jalan menjemur diatas lantai tanah ataupun semen. Untuk lebih mempercepat proses pengeringan, ada kalanya gelondong dimemarkan terlebih dahulu baru dijemur. Pengeringan dalam bentuk gelondong ini menyebabkan beberapa kekurangan, yaitu:

  1. Memakan waktu lama antara 10 sampai 15 hari;
  2. Kulit ari melengket pada biji;
  3. Warna lebih kekuningan;
  4. Menimbulkan fresh smell.

Kemudian setelah kopi kering baru dikupas, yaitu dipisahkan dari daging, kulit tanduk, dan kulit arinya, biasanya dilakukan dengan cara menumbuk di lesung atau dengan cara buler.

Sortasi dilakukan untuk memisahkan dedek serta biji-bji yang pecah ataupun kena bubuk, hitam dan lain-lain.

B. Pengolahan Basah

Pengolahan basah atau West Indesche bereiding, dipakai di Indonesia ini semenjak kopi Robusta berkembang. Karena sebelum itu untuk jenis kopi Arabika hanyalah dipergunakan pengolahan kering.

Pengolahan basah ini memerlukan banyak air, yaitu sekitar 16-18 Liter/Kg kopi biji. Karena pengolahan justru terjadi di musim kemarau, maka masalah air sangatlah penting dalam cara pengolahan ini.

Pengolahan basah ini mengenal dua cara pula, yaitu dengan fermentasi dan tanpa fermentasi. Pengolahan dengan fermentasi ini akan menghasilkan kopi bersih dari lendir, sehingga dengan cepat dapat dicuci. Akan tetapi sebaliknya, cara fermentasi ini menyebabkan penyusutan berat kopi. Fermentasi selama 36 jam menyebabkan berat susut 2-4 persen dan ini tergantung dari temperatur. Makin tinggi temperatur (jadi makin rendah letak pabrik) makin besar pula penyusutannya.

Rendemen buah kopi, yaitu perbandingan antara berat kopi biji dan berat kopi gelondong, rendemen ini berbeda-beda menurut jenisnya:

  1. Rendemen Kopi Robusta; antara 22 samapi dengan 24 persen;
  2. Rendemen Kopi Arabika; antara 16 sampai dengan 18 persen;
  3. Rendemen Kopi Liberika; antara 10 sampai dengan 12 persen.

Selama fermentasi biji kopi masih hidup, sehingga terjadi dessimilasi yang menghasilkan produk-produk yang menguap, ini yang menyebabkan penyusutan berat. Oleh karena itu kopi yang diolah dengan tanpa fermentasi mempunyai rendemen yang lebih tinggi.

Proses pengolahan basah terdiri dari beberapa tingkat pengolahan sebagai berikut:

 

Proses Pengolahan Basah pada Biji Kopi

1. Sortasi Kopi Gelondong

Setelah tiba di emplasemen, buah kopi akan kita pisahkan dari buah-buah yang berwarna hijau. Kemudian buah kopi yang berwarna merah akan dimasukkan dalam sifon (conische tank) untuk memisahkan:

  1. Kopi yang masak dan baik diolah secara basah
  2. Kopi yang inferior (bubuk, gabuk, kering, dan lain sebagainya) diolah secara kering.

Pemisahan ini didasarkan atas perbedaan berat jenis dengan jalan merambangnya dalam air. Hingga dengan demikian buah inferior yang mengambang akan kita pisahkan dan diolah secara kering. Buah yang bik dan tenggelam disedot masuk kedalam pulper, untuk diolah secara basah.

2. Pulping

Pulping bertujuan untuk memisahkan kopi dari pulp yang terdiri dari atas daging dan kulit buah. Juga terdapat 2 pulper, macamnya adalah disk puper; dan cylinder pulper. Akan tetapi sekarang ini praktis yang dipakai adalah cylinder pulper, yaitu Vis Pulper dan Raung Pulper (Aqua Pulper).

Raung pulper ini juga berfungsi sebagai pencuci, dari kopi yang keluar dari mesin ini tidak perlu difermentir dan dicuci lagi, karena memang sudah bersih dari lendir. Kopi yang baru dipetik haruslah di pulp pada hari itu juga, ini dilakukan agar lebih mudah dan juga loebih bersih. Lobang dalam saluran pulper harus disetel dengan seksama, agar kopi tidak terkelupas kulit tanduknya.

Ruang pulper ini memerlukan lebih banyak tenaga kalau dibandingkan dengan Vis Pulper. Oleh karena itu cocok sekali untuk kebun-kebun yang memiliki turbin air.

3. Fermentasi

Kopi yang telah di Pulp dengan Vis pulper masih diselaputi lapisan lendir. Lendir itu sendiri harus segera dihilangkan untuk mempercepat proses pengeringan. Ada beberpa cara untuk menghilangkan lendir ini, yaitu melalui fermentasi; bahan bahan kimia; air panas; dan penggosokan.

Adapun cara yang termurah dan banyak dipergunakan adalah fermentasi. Untuk inipun terdapat 2 macam fermentasi, yaitu:

  1. Fermentasi basah/ dengan direndam air;
  2. Fermentasi kering/ tanpa direndam air.

Fermentasi basah ini dilakukan dengan jalan merendam pada bak air selama 36-60 jam. Makin tinggi letak pabrik maka makin lama fermentasi. Setelah direndam 10 jam maka cairan fermentasi harus dikeluarkan melalui saluran bawah bak, kemudian nanti akan ditambah air dengan secara berangsur-angsur. Banyak air yang ditambahkn 2/3 volume kopi.

Fermentasi kering dilakukan dengan menggundukkan kopi yang keluar dari pulper dan kemudian ditutup dengan karung goni, agar fermentasi ini merata maka gundukan perlu dibolak-balik.

4. Pencucian

Setelah di fermentasi maka kopi harus dicuci bersih-bersih, dan kalau dipegang terasa kasar. Pencucian ini dapat dipergunakan dengan mesin dan dapat pula dipergunakan melalu tangan.

Kopi yang tidak difermentir di pulp Vis Pulper haruslah dicuci dengan mesin cuci. Namun kalau yang di pulp dengan Raung Pulper tidak perlu dicuci, karena mesin tersebut telah sekaligus melakukan  pulping dan pencucian.

5. Pengeringan

Setelah kopi itu dicuci maka akan mengandung air 52 sampai dengan 54 persen terhadap berat basah. Kandungan tersebut dibagi menjadi 20 persen air permukaan; dan 80 persen air dalam sel.

Tujuan dari pengeringan itu sendiri adalah untuk menurunkan kandungan air kopi dari +54 persen menjadi +10 persen. Pengeringan ini dapat dilakukan dengan cara penjemuran; pengeringan mekanis; dan pengeringan kombinasi penjemuran dan mekanis.

Kalau diperkebunan-perkebunan jenis kopi Robusta ini dikeringkan dengan cara mekanis. Sedangkan untuk jenis kopi Arabika biasanya dipergunakan kombinasi antara penjemuran dan mekanis. Hal ini bertujuan supaya lebih mempercepat proses pengeringannya.

Pada kopi jenis Arabika ini penjemuran dilakukan untuk pembentukan aroma, walaupun penjemuran dilakukan lama maka jenis ini tak akan menjadi kurang, karena kulit arinya lebih mudah lepas bila dibandingkan dengan kopi jenis Robusta.

Untuk cara pengeringan melalui mekanis, dilakukan melalui penguapan dengan jalan pemanasan. Didalam proses penguapan ini dibedakan 2 stadium yaitu:

  1. Stadium Lembab

Terjadi penguapan air permukaan sehingga kandungan air turun dari 54 persen menjadi 30 persen.

  1. Stdium Higroskopis

Terjadinya penguapan air dari dalam sel. Kandungan air diturunkan dari 30 persen menjadi 10 persen. Stadium ini sangat penting karena mempengaruhi mutu dan warna kopi.

Sedangkan temperatur untuk kedua stadium tersebut dapat dilakukan dengan cara:

  1. Stadium lembab untuk fase pertama;
  2. Temperatur 100-120 derajat Celsius, hingga kandungan air mendekati 30 persen, aliran udara pengering yang besar;
  3. Stadium higroskopik fase kedua, temperatur diturunkan sehingga 70 sampai 60 derajat Celsius.

Untuk pengeringan secara mekanis ini memang terdapat beberapa type, antara lain adalah Vis Drier; Mason Drier; dan American Drying Systems. Vis Drier ini berbentuk rumah dengan lantai berlubang-lubang dan kopi dihamparkan pada lantai setelabl 8 cm. Pemanasan dilakukan dari pipa-pipa udara yang dipanaskan.

Mason drier ini berbentuk silinder berputar-putar dengan kecepatan 1-4 putaran per menit dan berdinding lubang-lubang. American Drying Systems, ADS drier berbentuk menara dan menggunakan pemanasan dari solar yang dibakar dalam burner gas. Gas hasil pembakaran ini langsung digunakan untuk pengeringan, setelah dicampur dengan udara segar.

6. Hulling

Setelah kering maka kopi dimasukkan dalam huller untuk melepaskan kopi dari kulit tanduk dan kulit ari. Untuk menghindari pecahnya biji kopi dan juga supaya kadar air kopi itu sama rata, maka baiknya kopi tersebut disimpan dulu sekitar 2 sampai 3 hari sebelum dikupas.

7. Sortasi Biji Kopi

Setelah dikupas maka kopi harus dipisahkan untuk memilih biji-biji yang baik dari kotoran yaitu sisa-sisa kulit tanduk, kulit ari, debu, dll. Juga disortir untuk memisahkan biji-biji inferior, yang pecah atau biji-biji yang sangat kecil.

 

Gambar: Proses Sortasi Biji Kopi

8. Warna

Warna kopi harus rata dan hidup serta segar. Juga tidak boleh mengandung biji berkulit ari. Warna yang dikehendaki ini tergantung dari pemasaran. Bisa saja dibuat hijau muda atau kuning kehijau-hijauan. Setelah kita mewarnai maka siaplah kopi tersebut kita lempar ke pasaran bebas.

Sumber:bercocok-tanam-kopi.blogspot.co.id

Tanaman Kopi Arabika

Budidaya Tanaman Kopi Arabika

posted in: Kebun Kopi | 0

Tanaman kopi merupakan komoditi ekspor yang cukup menggembirakan karena mempunyai nilai ekonomis yang relative tinggi di pasaran dunia, di samping itu tanaman kopi ini adalah salah satu komoditas unggulan yang dikembangkan di Jawa Barat.

Tanaman kopi jenis arabika sat ini mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi dibandingkan dengan kopi Robusta yang mana pada tahun 1990 harga kopi Arabika 1,85 U$D/Kg, sedangkan kopi Robusta 0,83 U$D/Kg.

Faktor-faktor yang mempengaruhi penurunan harga kopi Robusta di pasaran dunia antara lain :

  • Kelangkaan pasok jenis kopi Arabika.
  • Kopi robusta mengalami over supply.
  • Penggunaan kopi Robusta semakin tinggi.
  • Situasi pasaran dunia untuk jenis Robusta menurun sehingga ICO melakukan pemotongan kuota sebanyak 2 kali lipat dalam setahun.

Usaha untuk merebut peluang pasar kopi antara lain dengan Pengembangan tanaman kopi Arabika melalui kegiatan peremajaan, peluasan dan rehabilitasi tanaman kopi dari kopi Robusta menjadi kopi Arabika.Dari hal tersebut perlu adanya usaha pemilihan jenis kopi yang mempunyai nilai ekonomis dan rasa yang relatif baik serta yang tahan terhadap penyakit karat daun.

II. Pengertian

1. Peremajaan

Peremajaan adalah usaha menggantikan tanaman yang secara ekonomis tidak menguntungkan lagi karena produktivitasnya rendah sehingga perlu diganti dengan yang baru dan dapat menghasilkan produktivitas yang tinggi.

2. Perluasan

Kegiatan perluasan adalah menanam tanaman kopi di areal baru yang lingkungannya sesuai dengan persyaratan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman kopi.

3. Rehabilitasi

Rehabilitasi kebun adalah kegiatan untuk memulihkan kondisi kebun ke keadaan yang lebih baik, sehingga produktivitasnya meningkat. Rehabilitasi tanaman ditujukan pada populasi tanaman yang telah berkurang karena kesalahan kultur teknis, serangan hama dan penyakit serta kekeringan yang akan akan mengakibatkan produktivitas tanaman per hektar rendah atau tidak menguntungkan untuk diusahakan.

III. Budidaya Tanaman Kopi Arabika

Pada dasarnya untuk usahatani dan budidaya kopi arabika melalui kegiatan Perluasan, Peremajaan dan Rehabilitasi adalah sama seperti pada kegiatan penanaman baru, yaitu :

1. Syarat Tumbuh

a. Lokasi

Letaknyas terisolir dari pertanaman kopi varietas lain ± 100 meter.

Lahan bebas hama dan penyakit

Mudah pengawasan

b. Tanah

PH tanah : 5,5 – 6,5

Top Soil : Minimal 2 %.

Strukrur tanah : Subur, gembur ke dalaman relative > 100 cm.

c. Iklim

Tinggi tempat : 800 – 2000 m dpl

Suhu : 15º C – 25º C.

Curah hujan : 1.750 – 3000 mm/thn, Bulan kering 3 bulan

2. Bahan Tanaman

Untuk perbanyakan tanaman di lapangan diperlukan Bibit Siap Salur dengan kriteria sebagai berikut :

Sumber benih

  1. Benih harus berasal dari kebun induk atau perusahaan yang telah ditunjuk.
  2. Umur bibit : 8 -12 bulan
  3. Tinggi : 20 -40 cm
  4. Jumlah minimal daun tua : 5 – 7
  5. Jumlah cabang primer : 1
  6. Diameter batang : 5 – 6 cm

Kebutuhan bibit/ha

  1. Jarak tanam : 1,25 m x 1,25 m
  2. Populasi : 6.400 tanaman
  3. Untuk sulaman : 25 %

3. Penanaman

a. Jarak Tanam

Sistem jarak tanam untuk kopi arabika antara lain :

  1. Segi empat : 2,5 x 2,5 m
  2. Pagar : 1,5 x 1,5 m
  3. Pagar ganda : 1,5 x 1,5 x 3 cm

b. Lobang Tanam

  1. Harus dibuat 3 bulan sebelum tanam.
  2. Ukuran lubang 50 x 50 x 50 cm, 60 x 60 x 60 cm, 75 x 75 x 75 cm atau 1 x 1 x 1 m untuk tanah yang berat.
  3. Tanah galian diletakan di kiri dan kanan lubang.
  4. Lubang dibiarkan terbuka selama 3 bulan.
  5. 2 -4 minggu sebelum tanam, tanah galian yang telah dicampur dengan pupuk kandang yang masak sebanyak 15/20 kg/lubang, dimasukkan kembali ke dalam lubang.
  6. Tanah urugan jangan dipadatkan.

c. Penanaman

  1. Penanaman dilakukan pada musim hujan
  2. Leher akar bibit ditanam rata dengan permukaan tanah.
Kopi Gayo, Ateng Super

4. Pemeliharaan

a. Penyiangan

  1. Membersihkan gulma di sekitar tanaman kopi.
  2. Penyiangan dapat dilakukan bersama-sama dengan penggemburan tanah
  3. Untuk tanaman dewasa dilakukan 2 x setahun

b. Pohon Pelindung

Penanaman pohon pelindung

  1. Tanaman kopi sangat memerlukan naungan untuk menjaga agar tanaman kopi jangan berbuah terlalu banyak sehingga kekuatan tanaman cepat habis.
  2. Pohon pelindung ditanam 1 – 2 tahun sebelum penaman kopi, atau memanfaatkan tanaman pelindung yang ada.
  3. Jenis tanaman untuk pohon pelindung antara lain lamtoro, dadap, sengon, dll.

 Pengaturan pohon pelindung

  1. Tinggi pencabangan pohon pelindung diusahakan 2 x tinggi pohon kopi
  2. Pemangkasan pohon pelindung dilakukan pada musim hujan.
  3. Apabila tanaman kopi dan pohon pelindung telah cukup besar, pohon pelindung bisa diperpanjang menjadi 1 : 2 atau 1 : 4.

c. Pemangkasan Kopi

Pangkasan Bentuk

  1. Tinggi pangkasan 1,5 – 1,8 m
  2. Cabang primer teratas harus dipotong tinggi 1 ruas
  3. Pemangkasan dilakukan di akhir musim hujan

Pangkasan Produksi

  1. Pembuangan tunas wiwilan (tunas air) yang tumbuh ke atas.
  2. Pembuangan cabang cacing dan cabang balik yang tidak menghasilkan buah.
  3. Pembuanagn cabang-cabang yang terserang hama penyakit.
  4. Pemangkasan dilakukan 3 – 4 kali setahun dan dikerjakan pada awal musim hujan.

Pangkasan Rejupinasi (pemudaan)

  1. Ditujukan pada tanaman yang sudah tua dan produksinya sudah turun menurun
  2. Pada awal musim hujan, batang dipotong miring setinggio 40 – 50 cm dari leher akar. Bekas potongan dioles dengan aspal.
  3. Tanah disekeliling tanaman dicangkul dan dipupuk
  4. Dari beberapa tunas yang tumbuh pelihara 1 -2 tunas yang pertumbuhannya baik dan lurus ke atas.
  5. Setelah cukup besar, disambung dengan jenis yang baik dan produksinya tinggi.

5. Pemupukan

Dosis pemupukan kopi per pohon adalah :

  1. Umur 1 tahun : 50 gr Urea, 40 gr TSP, dan 40 gr KCL.
  2. Umur 2 tahun : 100 gr Urea, 80 gr TSP, dan 80  gr KCL.
  3. Umur 3 tahun : 150 gr Urea, 100 gr TSP, dan 100 gr KCL.
  4. Umur 4 tahun : 200 gr Urea, 100 gr TSP, dan 100 gr KCL.
  5. Umur 5-10 tahun : 300 gr Urea, 150 gr TSP, dan 240 gr KCL.
  6. Umur 10 thn keatas : 500 gr Urea, 200 gr TSP, dan 320 gr KCL.

Pupuk diberikan dua kali setahun yaitu awal dan akhir musim hujan masing-masing setengah dosis. Cara pemupukan dengan membuat parit melingkar pohon sedalam ± 10 cm, dengan jarak proyek tajuk pohon (± 1 m)

6. Pengendalian Hama Penyakit

a. Hama

Hama Bubuk Buah

  • Penyebab adalah sejenis kumbang kecil
  • Menyerang buah muda dan tua
  • Pengendalian dengan mekanis yaitu dengan mengumpulkan buah-buah yang terserang, secara kultur teknis dengan penjarangan naungan dan tanaman sedangkan secara chemis dengan Insektisida Dimecron 50 SCW, Tamaron, Argothion, Lebaycide, Sevin 85 S dengan dosis 2 cc / liter air.

Bubuk Cabang (Xyloborus moliberus)

  • Menyerang/menggerek cabang dan ranting kecil 3 – 7 dari pucuk kopi.
  • Daun menjadi kuning dan rontok kemudian cabang akan mongering.
  • Pengendalian sama seperti pada hama bubuk buah.

b. Penyakit

Penyakit Karat Daun

  • Penyebab adalah sejenis Cendawan.
  • Tanda serangan ada bercak-bercak merah kekuningan pada bagian bawah daun, sedangkan di permukaan daun ada bercak kuning. Kemudian daun gugur, ujung cabang muda kering dan buah kopi menjadi hitam kering dan kualitas tidak baik selanjutnya tanaman akan mati.
  • Pengendalian secara kultur teknis dengan menanam jenis kopi arabika yang tahan sepertio S 333, S 288 dan S 795 serta menjaga agar kondisi FungisidaDithane M-45 dengan dosis 2 gr/liter air.

c. Panen

  • Kopi Arabika mulai berbuah pada umur 4 tahun.
  • Petik buah yang betul masak dengan warna merah, tua agar menghasilkan kopi yang berkualitas.
  • Pada waktu panen (pemetikan) agar berhati-hati supaya tidak ada bagian pohon/cabang/ranting) yang rusak.

Sumber: http://asmacs.wordpress.com/budidaya-tanaman-kopi

Penyakit Tanaman Kopi

Hama dan Penyakit Tanaman Kopi

posted in: Kebun Kopi | 0

A. Hama

Hama-hama yang biasa menyerang tanaman kopi di Indonesia antara lain adalah:

  1. Hama tanaman kopi yang merusak akar tanaman kopi, yaitu Cacing Akar. Cacing akar menyerang perakaran tanaman kopi:
  2. Tylenchus Sinensis dan Tylenchus coffea;
  3. Heterodera Marioni.
  1. Hama yang merusak bagian batang dan dahan kopi, meliputi:
  2. Larva dari hama menggerek batang, untuk menjadi tempat ketika larva tersebut menjadi kepompong. Cara pemberantasan hama ini adalah dengan memotong dan kemudian membakar pohon yang sudah pernah diserang.
  3. Xylosamdrus Morstati atau Xylobarus Morstati. Hama ini menggerek batang inang yang berukuran +1,80mm;
  4. Phassus Damar, merupakan ulat penggerek kulit batang secara meingkar;
  5. Xylosamdrus Morigerus atau Xylobarus Morigerus.
  1. Hama-hama lainnya yag merusak tanaman kopi, meliputi:
  2. Kutu, Kutu tanaman kopi
  3. Hama Bubuk buah kopi, yaitu Stephanoderis Hampei

B. Penyakit

Adapun penyakit yang sering menyerang tanaman kopi di Indoensia yang penting adalah sebagai berikut:

  1. Penyakit yang menyerang bagian akar

Tanda-tanda secara umum, pertumbuhan daun-daun kelihatan tidak segar. Layu dan arahnya menggantung. Warna dari hijau berubah menjadi kuning lalu cokelat dan kemudian gugur.

  1. Fomes Noxius Carner atau Cendawan akar Coklat.

Jenis cendawan ini disamping biasa menyerang perakaran kopi juga tanaman lain, seperti karet. Disamping itu juga menyerang pohon pelindung dan pohon-pohon pembantu lainnya. Cara menjalar melalu infeksi kontak dari akar yang sakit ke akar yang sehat yang tumbuhnya berdekatan.

  1. Cendawan akar hitam.

Dari Golongan ini akan kita kenal 2 jenis cendawan, pertama adalah cendawan Rosellinia Bunodes dan kedua adalah cendawan Rosellinia Arcuata.

Cendawan yang pertama memiliki tanda-tanda pohon mati secara mendadak. Pada batang dekat leher akar terdapat benang-benang cendawan berwarna hitam. Benang-benang ini pada tingkatan selanjutnya akan merupakan anyaman. Pada saat itu kulit batang yang terserang sudah mati.

Cendawan jenis kedua memiliki bentuk dan keadaan seperti Rosellinia Bunodes dan demikian juga dengan tanda-tandanya. Mysellium antara kulit batang dan kayu bentuk binatang dengan warna putih.

  1. Penyakit busuk pada kulit akar.

Menyerang akar tunggang dan bagian-bagian akar lain yang besar. Penyakit ini terutama menyerang pada tumbuh-tumbuhan yang masih muda. Kemungkinan besar infeksi berlangsung melalui luka-luka bekas kena pacul-an, arit atau alat-alat lain dan waktu mengerjakan tanah atau pun pada waktu merumput.

Penyakit yang menyerang bagian akar ini secara umum dapat diberantas dengan jalan pohon yang terserang penyait dibongkar. Semua tunggul dan perakaran dari bekas tanaman yang berada disekitar pohon kopi tersebut ikut dibongkar dan dibakar pula.

  1. Penyakit yang menyerang batang, dahan dan ranting
  2. Penyakit Jamur Upas (Conticium Salmonicolor)

–          Penyakit ini menyerang pohon kopi

–          Batang yang terserang terdapat selaput warna merah jambu, kemudian menjadi putih (kumpulan spora). Biasanya pada saat itu kulit menjadi mati.Benag-benag cendawan selanjutnya dapat menjalar ke tangkai daun, helai daun, bunga dan buah kopi.

Cara pemberantasan penyakit jamur upas adalh dengan cara memotong dan membakar bagian tanaman kopi yang terserang jamur.

  1. Penyakit mati ujung atau Top Sterfte

Penyakit ini disebabkan oleh cendawan jenis Rhizoctonia, menyerang terutama pada kebun-kebun kopi yang masih muda, dan belum dipangkas. Tanda-tanda tanaman kopi yang terserang penyakit ini adalah:

–          Pertumbuhan percabangan asimetris, disusul dengan matinya ujung-ujung batang secara berangsur-angsur dari ujung pohon.

–          Daun-daun berada pada cabang yang pendek dengan warna hijau suram, kekuning-kuningan dan kemudian gugur.

Penyakit ini banyak terdapat diantara tinggi 200 meter ke atas dan pada kebun yang naungannya kurang tebal.

Cara pemberantasan penyakit ini adalah dengan cara memangkas dan membakar cabang yang sakit, serta dilakukan secara bergilir sekali sebulan oleh tenaga-tenaga yang khusus.

  1. Penyakit-penyakit pada daun
  2. Hemileia Vastatrix

Menyerang teruatama pada jenis kopi Arabika di dataran rendah. Serangan pada helai daun sebelah bawah. Tanda tandanya adalah adanya bercak-bercak warna kuning muda, kemudian berubah menjadi kuning tua. Akhirnya menjadi Cokelat dan hitam, kemudian daun tersebut gugur dengan sendirinya. Pemberantasan penyakit ini dilakukan pada waktu tanaman masih berada di persemaian, yaitu dengan cara disemprot dengan B.B pada daun sebelah bawah.

  1. Cercospora Coffeicola

Tanda-tanda serangan hampir sama dengan Hemileia Vastatrix, perbedaannya hanya bercak-bercak itu bulat dan jelas sekali. Cara pemberantasan penyakit ini sama dengan cara pemberantsan penyakit Hemileia Vastatrix, yaitu dengan disemprot dengan B.B pada daun sebelah bawah.

  1. Penyait Hangus

Tanda-tandanya adalah permukaan atas helai daun terdapat selaput warna hitam (berasal dari bekas-bekas kotoran serangga yang menghisap cairan zat makanan di bagian tanaman yang masih muda). Selaput hitam ini sebagai media cendawan yang sangat baik, menghalangi asimilasi daun dan mengabsorber panas sehingga daun-daun menjadi mati.

  1. Penyakit pada bunga dan buah kopi
  2. Penyakit Cephaleuros Coffea, menyerang pada buah kopi
  3. Penyakit Bunga Bintang, menyerang bunga terutama pada jenis Arabika di daerah-daerah yang basah.
  4. Penyakit Rontok Buah, untuk jenis-jenis penyakit yang menyerang pada buah kopi ini, benar-benarlah sangat merugikan bagi kita sebagai penanam kopi. Sebab akan mengakibatkan:

–          Pengguguran buah muda

Buah muda yang digerek akan gugur, dan terjadinya gugur buah bisa mencapai 7-14 persen dari produksi

–          Penurunan mutu kopi, yaitu biji kopi berlubang, dan tingkat serangan bisa mencapai 40-50 persen dari berat kopi. Sesuai dengan F.A.Q (Fir Average Quality of the Season), mutu kopi hanya boleh mengandung 2 persen kopi bubuk.

–          Penyusutan berat kopi, disebabkan karena berlobang-lobang maka berat kopi akan susut. Tingkat penyusutan bisa mencapai 30-50 persen dari berat biji yang diserang.

Sumber:bercocok-tanam-kopi.blogspot.co.id