Menu Close

Dari Enrekang Ke Ollon, Celebes Molase

“Molasse” (molas) dalam konteks geologi berarti: endapapan batuan yang berasal dari erosi suatu tinggian orogen/pegunungan yang diendapkan ke cekungan di dekatnya melalui proses longsoran gravitasi. Pegunungan asal endapan batuan itu bisa berupa pegunungan volkanik atau pegunungan hasil pengangangkatan tektonik yang berhubungan dengan benturan blok-blok kerak Bumi (teran).

Endapan batuan molas umumnya punya ciri-ciri tertentu: jenis-jenis batuan penyusunnya bergantung pada tipe batuan sumbernya yang menyusun tinggian orogen, ukuran-ukuran batuannya campur aduk dari kecil ke besar, bentuknya juga dari bersudut sampai membulat. Bila orogennya relatif muda dalam zaman geologi, baru terangkat, maka endapan molasnya belum terkonsolidasi dengan baik, belum membatu.

Bila proses tektonik yang mengangkat orogen menerus, maka pasokan endapan molas pun ikut menerus dan ikut pula terkena proses deformasi menjadi terlipat-lipat membentuk punggungan dan lembah molas, juga ada yang tersesarkan. Punggungan molas pun bisa menjadi sumber molas kedua dan seterusnya yang diendapkan di lembahnya, sehingga endapan ini recycled, terdaur ulang, menghasilkan batuan-batuan penyusun molas yang berbentuk membulat (disebut konglomerat).

Sulawesi adalah pulau di tengah wilayah Indonesia yang terbentuk oleh benturan teran-teran dari Sundaland (Indonesia Barat) dan Australian (Indonesia Timur), menjepit busur volkanik dan kerak samudra di antaranya. Benturan ini mulai terjadi pada sekitar 20 juta tahun yang lalu dan menerus hingga kini. Benturan ini telah menghentikan pembukaan lebih lanjut Selat Makassar yang memisahkan Sulawesi dari Kalimantan, mengangkat bagian tengah Sulawesi, mengubah batuannya (metamorfisme), meleburkan batuannya menjadi magma (anateksis) yang diletuskannya sebagai erupsi gunung-gunungapi, menjepit dan mencabut kerak samudra dari induknya yang semula terletak di antara teran-teran Sundaland dan Australian.

Benturan ini juga telah mendeformasi Sulawesi oleh lipatan dan sesar, serta menyobeknya melalui sesar-sesar mendatar besar seperti Palu-Koro yang hingga kini bergerak 4-5 cm/ tahun -termasuk sesar yang bergerak paling cepat di dunia. Pengangkatan bagian tengah Sulawesi dan kerak samudra yang terjepit telah menghasilkan endapan batuan molas yang masif ke segala arah, dari bagian tengah Sulawesi menuju tepi-tepinya.

Endapan molas Sulawesi yang masif ini telah dikenal seawal abad 20 ketika dua naturalis bersaudara sepupu asal Swis Sarasin dan Sarasin (1901) menyebutnya Celebes Molasse. Mereka pasti ingat cekungan berisi sedimen seperti ini di sebuah cekungan di tepi Pegunungan Alpen/Alpina di kampung halaman mereka yang bernama Becken Molasse – Cekungan Molasse. Dari situ nama endapan molas berasal. Lalu seorang geoloog Belanda Kundig (1956) yang pertama kali mengaitkan asal molasse dengan benturan ketika ia menulis bahwa Celebes Molasse berhubungan dengan benturan pada Kala Miosen, 20-5 juta tahun yang lalu. Baik Sarasin dan Sarasin (1901) maupun Kundig (1956) tidak tahu-menahu soal tektonik benturan antarteran seperti yang saya tuliskan dan pernah publikasikan di sebuah pertemuan ilmiah (Satyana, 2011). Tetapi konsep-konsep mereka menuju itu.

Selama dua hari minggu lalu, Jumat-Sabtu, saya menemani komunitas Geotrek Indonesia, komunitas pencinta geo-histori Indonesia -saya adalah gurunya, berjalan di punggungan dan lembah endapan molas berumur Pliosen-Plistosen (1-5 juta tahun) di Sulawesi Selatan bagian utara, dari wilayah Enrekang sampai Ollon di sebelah timur Mamasa.

Ini adalah area endapan molas yang sangat masif dan terdeformasi kuat lalu tererosi sangat intensif, membentuk lipatan dan sesar naik sebagai jalur-jalur punggungan dan lembah yang puncak-puncaknya lalu tererosi menampilkan roman-roman rupabumi segitiga-segitiga erosi -triangular facets. Beberapa tebing punggungan yang terkupas erosi menunjukkan batuan-batuan konglomerat polimik (aneka jenis) yang belum cukup terlitifikasi -membatu sebagai penyusunnya, bukti batuan penyusunnya telah terdaur ulang berkali-kali sehingga membulat.

Air hujan lolos dari puncak-puncak punggungan karena endapan molasnys tak terkonsolidasi, menuju lembah, sehingga puncak-puncak umumnya gundul hanya ditumbuhi rumput, sementara lembah-lembahnya bervegetasi lebih rapat dan tinggi. Sabana. Perbukitan molas yang bergelombang oleh deformasi geologi, erosi puncak-puncak punggungan beroman rupabumi segitiga, dan padang-padang sabana yang luas antara punggungan dan lembah yang berwarna hijau-kuning, serta langit yang biru dg awan putih berarak menbuat pemandangan yang aduhai.

Sepanjang hampir 60 km dengan belasan jeep di jalanan tanah beralas molas dan berdinding tebing punggungan molas, kami tergoncang di jeep-jeep yang off road. Di ujung tujuan, Lembah Ollon, di tanah lapang sebuah lembah kami pun berkemah. Di bawah tanah lapang ini mengalir dengan malasnya liukan Sungai Sa’dan yang dengan perlahan namun pasti mengerosi dasar sungainya yang juga dilandasi endapan molas.

Di dalam jeep yang tergoncang, saya mendongeng kepada kawan-kawan komunitas satu jeep:

“Dulu 5-1 juta tahun yang lalu terjadi berkali-kali longsoran masif di area ini yang membentuk molas-molas ini, lalu mereka ditekan dan diangkat tektonik, membentuk punggungan dan lembah. Pengangkatan tektonik itu adalah berarti juga gempa-gempa besar. Longsoran dan gempa yang masif 5-1 juta tahun yang lalu. Sebagian itu mengubur hewan-hewan mamalia dan reptil Plistosen di Cabenge, Lembah Walanae selatan Danau Tempe, yang pada abad yang lalu fosil-fosilnya mulai ditemukan.

“Saat itu belum ada manusia. Jejak manusia paling pertama yang ditemukan di Sulawesi adalah pada sekitar 40.000 tahun yang lalu berupa gambar tangan di gua-gua, leang-leang, batugamping Tonasa di Maros. Mengertikah kita mengapa manusia datang paling akhir di Bumi? Because, before that, it was a violent Earth. Renungkan!”

Kita saat ini kebanyakan hanya disuguhi pemandangan yang begini indah, bukan sebuah riwayat alam yang seram. Semua telah dirancang-Nya bagi kita -para pendatang akhir di Bumi. Maka bijaklah menakar Bumi.***

Awang Satyana

https://www.facebook.com/profile.php?id=100004098920754

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll Up
%d bloggers like this: