Menu Close

Erupsi Sinabung Masih Membubung

Kerucut Sinabung dan aktifitas Juni 2014. Foto: Akhmad Zaennudin

Kerucut Sinabung dan aktifitas Juni 2014. Foto: Akhmad Zaennudin

Gunung Sinabung yang terletak di Tanah Karo, Propinsi Sumatra Utara – puncak tertinggi 2.460 m di atas muka laut – merupakan gunung api aktif yang sudah sangat lama tidak meletus. Gunung api yang seperti ini tentunya akan dilupakan oleh masyarakat sekitarnya. Walau Sinabung sebenarnya memiliki jejak letusan yang sangat berbahaya jauh di masa lalu, seperti pepohonan atau tunggul pohon yang telah terbakar menjadi arang, akibat perilaku awan panas yang melandanya, namun, masyarakat pada masa itu belum terbiasa membuat catatan atau cerita yang kelak akan berguna bagi generasi berikutnya.

Budaya mencatat kejadian alam atau peristiwa apapun yang penting di Indonesia baru dilakukan oleh Belanda, sekitar abad ke-16 M. Maka, letusan gunung api yang terjadi sebelum kolonial Belanda datang, biasanya tidak memiliki catatan yang merupakan sejarah aktivitasnya, dan dikelompokkan sebagai tipe B. Sinabung sejak 400 tahun yang lalu sampai 1979, ketika klasifikasi tipe gunung api Indonesia dibuat, belum pernah mengalami kenaikan aktivitas, apalagi meletus, sehingga Kusumadinata (1979) mengelompokannya ke dalam gunung api tipe B. Memang ada catatan atau laporan dari Satyana (2012) yang menyatakan bahwa di Sinabung pada 1912 terjadi aktivitas solfatara. Namun, kemungkinan besar hal itu bukan letusan solfatara, sebab jika letusan, tentunya tercatat oleh Belanda yang saat itu sudah sampai ke Berastagi.

Untitled-13

Gempa-gempa dalam 13 September 2011, yang terekam oleh seismogram. Foto: Akhmad Zaennudin

Letusan yang Mengagetkan
Gunung Sinabung sebelum 2010 sudah berabadabad tidak meletus, bahkan penduduk setempat menganggapnya sebagai gunung api padam, karena selama mereka mendiami wilayah ini tidak pernah terjadi letusan. Bahkan, kakek dan nenek mereka pun tidak pernah menyaksikan gunung api tersebut
meletus. Karena itu, daerah di sekitarnya telah berubah menjadi pemukiman dan perkebunan yang berkembang sangat pesat sampai hampir mencapai wilayah puncaknya.

Di samping tanahnya yang sangat subur dan air berlimpah karena mempunyai curah hujan yang tinggi, kawasan gunung ini juga mempunyai panorama yang indah mempesona, ditambah lagi dengan udaranya yang sejuk nan damai menjadikannya daya tarik tersendiri bagi para wisatawan untuk berkunjung. Di sanalah berkembang Berastagi, kota kecil yang berada di kakinya, yang telah menjadi tempat wisata sejak zaman kolonial Belanda.

Medan sebagai ibu kota Provinsi Sumatra Utara hanya berjarak 50 km dari Kota Berastagi. Dengan waktu sekitar satu setengah jam berkendaraan motor atau mobil, masyarakat kota metropolitan tersebut dan sekitarnya sudah dapat menikmati keindahan alam wilayah Berastagi. Mereka mendapatkan refreshing dari wilayah indah di kaki Sinabung tersebut, sehinggasetiap akhir pekan dan hari-hari libur wilayah ini penuh oleh wisatawan.

Tiba-tiba “gadis manis” yang biasanya duduk dengan damai menyajikan tanah yang subur, air berlimpah, panorama yang menakjubkan, dan udara segar tersebut kemudian menggeliat bangun dari tidur panjangnya selama sekitar 1.100 tahun. Itulah permisalan Sinabung yang meletus pada 27 Agustus 2010, seakan “berdehem” kemudian “batuk-batuk kecil”, memberikan peringatan kepada penduduk di sekitarnya berupa letusan freatik. Letusan ini terus berulang pada 30 Agustus 2010, 3 September 2010, dan 7 September 2010.

Letusan-letusan tersebut mengagetkan semuanya, terutama penduduk yang bermukim di wilayah Kabupaten Tanah Karo. Kondisi alam yang berhubungan dengan letusan gunung api, tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Gunung api yang sebelumnya sangat bersahabat dan selalu memberi kopi, jeruk, dan sayur-mayur dari kebunkebun mereka, dan manfaat alam lainnya yang sudah berlangsung berabad-abad, kini telah menggeliat, bangun dari tidurnya.

Tanggal 25 Agustus 2010 adalah awal aktivitas Sinabung periode zaman kita ini. Pada 27 Agustus 2010 letusan itu berlanjut ditandai dengan suara dentuman keras dan Sinabung pun lalu memuntahkan material vulkanik. Setelah awal aktivitas berupa letusan freatik dari 27 Agustus – 7 September 2010, Sinabung kemudian mengalami erupsi freatomagmatik dan magmatik pada 13 September 2013 yang masih berlanjut sampai saat ini. Kini, sesudah sekitar dua tahun lebih terjadi letusan, letusan Sinabung mengeluarkan aliran lava diselingi pembentukan kubah lava yang kemudian dihancurkan lagi oleh letusan eksplosif yang terjadi secara berulang-ulang.

Dengan adanya letusan gunung api Sinabung yangabunya terpapar sampai kota Berastagi, kegiatan pariwisata di wilayah ini sedikit terganggu. Hanya
para wisatawan minat khusus yang masih mau datang ke wilayah ini. Mereka dari jarak yang aman melihat proses letusan Sinabung yang sangat indah bila dilihat pada malam hari.

Kubah lava paling tua G. Sinabung (2.460 m), sekaligus puncak tertinggi. Foto: Mitsuhiro Yoshimoto

Kubah lava paling tua G. Sinabung (2.460 m), sekaligus puncak tertinggi. Foto: Mitsuhiro Yoshimoto

Geologi Gunung Sinabung
Pemahaman geologi Gunung Sinabung akan memberikan gambaran tentang sejarah kegunungapian gunung ini. Menurut Cameron dkk (1982), sebagai lapisan dasar dari endapan-endapan batuan Sinabung adalah ignimbrit Singkut berumur Plistosen Tengah- Atas atau 1,2 juta – 10.000 tahun yang lalu (tyl) di bagian timut laut, timur, dan selatan; ignimbrit Toba berumur Plistosen Tengah (1,2 juta tyl) di bagian barat dan barat daya; vulkanik Takur-takur berumur Miosen Akhir – Pliosen (5-7 juta tyl) di bagian utara; dan batugamping dan rijang Milmil (Perem awal hingga Trias, 250 – 260 juta tahun) di bagian barat.

Jadi, sebetulnya gunung api ini masih sangat muda, yaitu antara 1,2 juta hingga 10.000 tyl atau mungkin masuk ke Kala Holosen, yang sedang dalam pertumbuhan untuk menjadi gunung api lebih besar dan lebih dewasa lagi. Hal ini dapat dilihat dari bentuk kerucutnya yang berukuran kecil, diameter 7 km, dan hanya sekitar 1.300 m muncul dari dataran tinggi Berastagi di sekelilingnya. Oleh karena itu, letusanletusan akan sering terjadi selama ada pasokan magma dari bawah.

Aliran lava Juli 2014 dini hari yang memperlihatkan lelehan magma cair. Foto: Setsuya Nakada

Aliran lava Juli 2014 dini hari yang memperlihatkan lelehan magma cair. Foto: Setsuya Nakada

Gunung Sinabung memiliki empat kawah yang masing-masing diberi nama Kawah I, II, III, dan IV. Tiga kawah berada di daerah puncak dan satu kawah di lereng selatan yang terbuka ke arah Desa Suka Meriah, karena di dindingnya terdapat hembusan solfatara. Kawah I terletak di samping timur sebuah kubah lava tua dan sekaligus menjadi titik tertinggi Sinabung (2.460 m dpl). Kawah II (2.437 m dpl) terletak di sebelah selatan dari Kawah I yang pada tepi selatannya terdapat kubah lava. Sementara Kawah III (2.431 m dpl) berada di tengah-tengah antara Kawah I dan Kawah II. Kawah ini terlihat hanya cekungan yang berukuran lebih kecil dari Kawah I dan II atau tepatnya berada di bagian utara Kawah II yang memotong dinding Kawah I.

Di dinding sebelah selatan Kawah II terdapat sebuah kubah lava yang telah rusak oleh suatu letusan pembentukan Kawah II ini. Jadi, kubah lava tersebut
relatif lebih tua dan kawah tersebut. Batu Segal yang berbentuk seperti jarum atau beberapa orang mengatakan sebagai kubah yang berbentuk candi Prambanan merupakan kubah yang terbentuk setelah Kawah II atau kemungkinan fase akhir dari letusan yang berhubungan dengan Kawah II.

Gunung api Sinabung yang masih muda dicirikan pula oleh tubuhnya yang masih indah dan mulus, terbentuk sebagian besar oleh endapan aliran lava dan piroklastik. Beberapa kubah lava yang terdapat di kawasan puncak merupakan ciri tersendiri dari gunung api ini. Di bagian puncaknya, ada tiga kubah lava, dan tiga kawah sebagai peninggalan dari letusanletusan eksplosif. Kubah lava termuda yang bentuknya bagaikan Candi Prambanan, ada di sebelah selatan Kawah II, berdampingan dengan kubah lava lainnya yang lebih tua dan sudah rusak.

Pohon, bangunan gereja, pagar rumah, dan jalan raya tertutup oleh hujan lumpur dari abu vulkanik yang tercampur dengan air hujan ketika letusan 14 Januari 2014. Foto: Akhmad Zaennudin.

Pohon, bangunan gereja, pagar rumah, dan jalan raya tertutup oleh
hujan lumpur dari abu vulkanik yang tercampur dengan air hujan
ketika letusan 14 Januari 2014. Foto: Akhmad Zaennudin.

Berdasarkan pemetaan oleh Oktory Prambada (2011), aliran lava dan piroklastik tersebar ke segala arah menyusun sebagian besar tubuh Sinabung. Aliran piroklastik yang paling muda terdapat di wilayah tenggara berbentuk seperti kipas dengan bagian sempitnya terdapat di daerah kawah, bagian bawah gunung sampai ke lembah Sungai Uruktuhan. Sungai ini yang berjarak sekitar 5 km dari puncak, merupakan batas paling jauh dari endapan aliran piroklastik. Ini ditandai dengan sisi luarnya berupa dinding bukit yang terususun oleh endapan ignimbrit Singkut dan ignimbrit Toba.

Endapan awan panas yang terjadi 1.100 – 1.200 tahun yang lalu merupakan endapan batuan vulkanik yang terdiri atas fragmen lava berukuran lapilli sampai bongkah bercampur dengan abu – pasir vulkanik dan sering terdapat arang kayu di dalamnya. Arang kayu menunjukkan bahwa awan panas sumber endapan itu bertemperatur sangat tinggi, sehingga pohon kayu atau cabang kayu yang dilaluinya langsung berubah menjadi arang.

Kubah Lava, Aliran Lava, dan Piroklastik
Kubah lava, aliran lava, dan aliran piroklastik Sinabung mempunyai keterkaitan satu dengan lainnya dalam genesanya. Endapan-endapan batuan tersebut kita saksikan pada periode letusan 2013 sampai Januari 2016. Kalau kita amati secara seksama pertumbuhan kubah lava dan aliran lava Sinabung, maka dapat diamati adanya aliran piroklastik yang terbentuk ketika kubah lava tumbuh dan longsor. Tetapi ada pula letusan eksplosif yang menghancurkan kubah lava dan hanya menyisakan sedikit, sehingga di puncak Sinabung terlihat adanya sisa kubah-kubah runcing.

Setiap hari dapat kita amati ratusan kali guguran fragmen lava membentuk aliran piroklastik sebagai longsoran dari kubah lava yang sedang tumbuh (dome collapsed), dan ujung atautepi lava yang sedang mengalir yang belum stabil. Pada bagian dalam dari kubah lava ini masih terdapat cairan magma kental, sehingga bila ada desakan atau dorongan magma baru dari bawah akan melongsorkan bagian luar kubah lava yang belum beku tersebut. Akhirnya longsoran itu akan membentuk aliran piroklastik yang disebut block ash pyroclastic flow dari longsoran kubah.

Aliran piroklastik di Gunung Sinabung ini terdiri atas aliran piroklastik guguran kubah lava, ujung dan tepi lava; serta aliran piroklastik dari runtuhnya kolom asap letusan (column collapsed). Aliran piroklastik dari jenis guguran kubah lava lebih dominan daripada jenis aliran piroklastik dari runtuhan kolom letusan. Jadi, tipe letusan Sinabung akhir-akhir ini menyerupai letusan Gunung Merapi di Yogyakarta. Jenis aliran piroklastik dari longsoran kubah Merapi dinamakan “wedhus gembel” yang sangat khas sehingga dinamakan tipe Merapi.

Aliran piroklastik jenis ini dapat juga terjadi pada ujung lava yang cukup tebal, yang masih belum membeku sempurna. Karena ada dorongan dari lava
yang masih cair di belakangnya atau bagian dalamnya, maka ujung lava atau tepi lava yang masih labil tersebut akan longsor membentuk aliran piroklastik diikuti oleh lava yang masih cair menuruni lembah curam. Fenomena ini pada malam hari akan tampak bagaikan air di sungai yang menyala. Beberapa ahli menamakan fenomena ini sebagai “nuée ardante” – dari bahasa Prancis – yang artinya awan pijar. Prof. Adjat Sudradjat, ahli gunung api Indonesia, lebih senang menggunakan istilah awan pijar untuk fenomena seperti itu, karena bila terjadi pada malam hari memperlihatkan sebuah awan pijar mengalir yang menuruni lereng gunung.

Kubah lava dan aliran lava merupakan kekhasan model letusan Sinabung pada masa sejarah pembentukannya pada letusan periode sekarang ini (15 September 2013 – sekarang) yang mengakibatkan terjadinya aliran piroklastik bongkah dan abu. Sesekali terjadi letusan eksplosif yang menyemburkan material vulkanik setinggi 3 – 8 km ke udara. Kadang-kadang letusan ini diikuti oleh aliran piroklastik guguran kubah lava seperti letusan yang terjadi pada awal November 2015. Pada endapannya banyak ditemukan bom gunung api yang mempunyai struktur kerak roti.

Letusan freatik G. Sinabung pada 30 Agustus 2010 jam 06.32 WIB. Foto: Rahmanto, PVMBG.

Letusan freatik G. Sinabung pada 30 Agustus 2010 jam 06.32 WIB.
Foto: Rahmanto, PVMBG.

Letusan ini masih akan terus berlangsung selama masih ada suplai magma dari kedalaman yang ditunjukkan dengan terdapatnya gempa-gempa vulkanik dalam antara 7 – > 9 km, terutama gempa vulkanik dalam yang mempunyai amplitudo > 3 mm. Para pengamat gunung api Sinabung menyebutnya sebagai gempa “kampak” karena bentuk seismografnya seperti kampak dengan bagian depannya atau pangkalnya yang lebar dan kemudian langsung mengecil pada bagian ujungnya. Fenomena ini mungkin masih akan berlangsung selama satu atau dua tahun lagi.

Bila dilihat dari komposisi kimia batuannya, cenderung menjadi lebih asam. Ini artinya magmanya sudah mengalami diferensiasi, semakin kental, dan kalau tidak ada pasokan magma baru akan terbentuk kubah pada puncaknya. Jika ada pasokan magma baru, maka letusan yang terjadi akan semakin lama, atau terjadi letusan eksplosif yang lebih besar. Namun, berdasarkan endapan batuan yang terjadi pada praletusan 2010, tidak ditemukan letusan eksplosif yang besar, yang terjadi hanya aliran piroklastik bongkah dan abu.

Pemantauan dengan berbagai metode perlu dilakukan terus agar bila ada kelainan tingkah laku dari letusan sebelumnya akan cepat diantisipasi. Metode pengamatan deformasi harus terus dilakukan untuk mengetahui seberapa besar injeksi magma baru dari bawah permukaan terjadi.

Di sisi lain, ada fenomena yang menarik pada periode letusan Sinabung saat ini, yaitu endapan abu vulkanik hasil letusan pada Januari 2014 telah bersih dari halangan rumah, sekolah, dan jalan raya. Ternyata ada yang mengumpulkan dan mengemas abu tersebut dalam karung-karung untuk dijual. Penduduk yang memiliki lahan atau rumah, sekolah, dan bangunanlainnya yang tertutup oleh abu vulkanik telah mendapat penghasilan tambahan. Maka, endapan hasil letusan 2013 – 2015 umumnya sudah bersih, kecuali di kebun-kebun penduduk yang sengaja dibiarkan untuk pupuk.

Gunung api yang masih terus membangun tubuhnya sehingga letusan-letusan selanjutnya masih akan terjadi dengan jeda waktu yang bervariasi, dalam hitungan tahun atau bahkan ratusan tahun. Namun, dengan perkembangan ilmu pengetahuan, maka seharusnya aktivitas vulkanik ini dapat diketahui dengan lebih baik lagi. Dengan demikian usaha mitigasi bencana letusan gunung api menjadi lebih baik lagi, dan korban, terutama korban manusia, yang diakibatkannya dapat dikurangi ke tingkat yang seminimal mungkin. (Akhmad Zaennudin)

Penulis adalah ahli gunung api.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll Up
%d bloggers like this: