Jejak Rempah Di Nusantara

Jalur rempah Nusantara tersambung dalam jalur perdagangan dunia yang disebabkan citra rasa rempah-rempah dari Nusantara mampu meramaikan pelayaran kapal-kapal dagang yang datang dari berbagai belahan dunia selama berabad-abad lamanya. Aroma rempah yang demikian harup membuat negara-negara dari daratan Eropa berdatangan mengekplorasi berbagai pulau-pulau yang ada di Nusantara pada beberapa abad yang lampau.

Kepulauan Nusantara memiliki berbagai lokasi yang menjadi surga dari berbagai jenis rempah yang tumbuh dengan subur. Nusantara yang memiliki keindahan alam dan kemegahan datarannya sangat menarik para pedagang yang datang dari berbagai belahan dunia datang untuk menikmati kekayaan tersebut. Berbagai bangsa Barat berdatangan ke Nusantara untuk memburu sumber rempah yang menjadi barang yang mahal dan berharga diperdagangkan pada waktu itu. Mereka berduyun-duyun mengelilingi berbagai tempat di Nusantara dengan berbagai kapal-kapal yang berasal dari Portugis, Spanyol, Inggris dan Belanda. Tempat-tempat yang mereka datangi tersebar mulai dari Sumatera, Banten, Lampung, Pulau Siau, Menado, Banda dan Ternate untuk mendapatkan rempah nusantara.

 

Jejak Lada Sumatera Selatan-Bangka Belitung

Rempah Nusantara
www.rumahmesin.com/

Lada adalah salah satu rempah yang merupakan salah satu komoditas unggul di kawasan Sumatera Selatan yang sudah terkenal sejak dahulu kala, bahkan sejak masa Sriwijaya. Budidaya komoditas ini berkembang sejak lama hingga puncaknya terjadi di masa Kesultanan Palembang Darussalam. Kemajuan pertanian lada di Sumatera Selatan masih bisa dilacak hingga saat ini karena masih ada beberapa petani yang masih tetap bertahan dengan menanam lada sebagai tumpuan ekonomi, seperti di sekitar Danau Ranau, Ogan Komering Ulu Selatan.

Selain di daerah Sumatera Selatan seperti yang disebutkan diatas jejak pertanian lada juga bisa dilihat di Bangka Belitung. Selain timah yang menjadi hasil tambang, Kawasan Bangka Belitung diketahui juga sebagai daerah penghasil lada nasional. Dewasa ini daerah ini menjadi sumber 40 persen dari seluruh produk nasional, daerah ini bisa menghasilkan setidaknya 30.000 ton lada.

Di dalam perdagangan ada dua bentuk lada yakni lada hitam dan lada putih. Asal kedua bentuk lada ini sebenarnya berasal dari tumbuhan yang sama, yang membuat berbeda adalah saat pengolaham atau proses untuk menghasilkannya. Lada putih dijula dengan harga yang lebih mahal jika dibandingkan dengan lada hitam. Di dalam pasar rempah dunia lada yang beradal dari Bangka Belitung sangat istimewa dan terkenal, lada dari daerah ini dikenal dengan nama dagang “Muntok White Pepper”. Harga lada berkaitan erat dengan kondisi pasar rempah-rempah di dunia dan harga bisa turun dan naik mengikuti permintaan dan penawaran. Maka produksi lada memiliki potensi yang bagus karena merupakan komoditi rempah nusantara yang diminati di pasar dunia.

Rempah Nusantara
http://www.jurnalasia.com

Banten-Lampung

Lampung sudah sejak lama menjadi pemasok lada khususnya kepada Kesultanan Banten. Melalui produk lada ini kesultanan Banten bisa melakukan hubungan diplomasi dengan berbagai penjuru dunia, seperti Malaka, China, Gujarat, Turki, Portugis, Inggris, Denmark, dan Belanda. Perdagangan lada ini dilakukan di Teluk Lada di pesisir barat daya Pandeglang, Provinsi Banten.

Saat ini pertanian lada di Lampung tetap dipertahankan dan semakin ditingkatkan untuk menjadi komoditas utama khususnya di Desa Sukadana Baru, Kecamatan Marga Tiga, Lampung Timur, Provinsi Lampung. Kebanyakan petani di kawasan tersebut memproduksi lada hitam yang dijual Rp 70.000 hingga Rp 100.000 per kilogram.

Sulawesi Utara Penghasil Pala Terbaik di Indonesia

Buah pala adalah salah satu rempah yang didapat di Indonesia dan salah satu penghasil pala terbaik di Indonesia adalah Pulau Siau, Sulawesi Utara, adalah salah satu pala terbaik asal Indonesia.  Buah Pala dari daerah ini mempunyai kualitas dan karakteristik yang istimewa yang mungkin disebabkan oleh kondisi alam dan tanah serta lingkungan geografis daerah tersebut yang khas, membuat buah pala yang berasal dari daerah ini memiliki nilai tersendiri dan membuat harganya lebih mahal. Buah pala dari daerah ini memiliki kandungan miristisin yang lebih tinggi dan memiliki aroma yang lebih kuat. Karena itu pulau Siau dikenal sebagai salah satu penghasil pala terbaik di dunia, selain Kepulauan Banda, Maluku.

Biji Pala Rempah Nusantara
http://www.khasiat.co.id

Namun seringkali karena kurang baiknya pengolahan sehabis panen seringkali petani mengalami kualitas buah yang diproduksi tidak demikian baik sehingga membuat harganya menjadi berkurang. Ada juga factor lain yang menyebabkan rusaknya harga pala dari daerah ini. Karena produksi dari daerah ini sangat diburu oleh pedagang, maka ada beberapa yang ingin mengambil keuntungan dengan cara yang tidak baik. Seringkali ada yang melakukan pemalsuan karena tingginya permintaan rempah sementara pasokan barang sangat terbatas.

Namun keuntungan dari menghasilkan buah pala telah memberi keuntungan dan kemakmuran bagi petani pala khususnya pada sekitar abad ke 16 sangat dirasakan oleh petani pala di daerah Banda.

Cengkeh di Minahasa dan Maluku Utara

Di kalangan masyarakat Sulawesi Utara khususnya di Minahasa, cengkeh menjadi  ikon sejarah, ekonomi, social, politik, dan budaya karena tanaman cengkeh menjadi penghasil keuntungan dan kemakmuran pada dekade  1970-an. Selain itu jejak kejayaan cengkeh juga bisa dijumpai di daerah Maluku, dimana masih banyak pohon-pohon cengkeh yang sudah berumur tua menjadi saksi kejayaan rempah di Nusantara yang dikejar-kejar oleh berbagai bangsa dari Portugis, Spanyol dan Belanda. Di Maluku Utara kebun-kebun cengkeh masih rimbun di lereng Gunung Gamalama, Ternate. Selain cengkeh kawasan ini juga menjadi sentra penghasil buah pala. Sebagai penghasil cengkeh dan pala maka daerah ini menjadi sumber rempah nusantara juga menjadi sasaran penjelajahan bangsa-bangsa Eropa.

Rempah Indonesia
http://agrobis99.blogspot.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *