Menu Close

Kemenyan Mulai Dikembangkan

KOMPAS — Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli di Simalungun, Sumatera Utara, mulai mengembangkan tanaman kemenyan, tanaman endemik di Tapanuli di sekeliling Danau Toba, menjadi produk jadi. Para peneliti menemukan limbah kemenyan bisa dijadikan parfum. Tanaman itu juga bisa menghasilkan madu dan propolis dengan budidaya lebah apis dan trigona di kawasan hutan kemenyan.

Peneliti Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli, Cut Rizlani Kholibrina dan Aswandi, Jumat (1/12), menjelaskan, parfum diolah dari hasil ekstraksi limbah pemanenan kemenyan yang selama ini tak dimanfaatkan, yakni kayu dan kulit pohon kemenyan.

”Parfum itu beraroma lembut, segar, dan dapat bertahan hingga 6 jam. Bahkan aromanya menyerupai parfum bermerek luar negeri,” kata Cut Rizlani.

Sementara madu merupakan hasil budidaya lebah apis di kawasan agroforestri terintegrasi hutan kemenyan dan tanaman kopi. Selain madu, juga dihasilkan propolis, zat gizi alam yang dkumpulkan lebah dari sari resin tunas daun dan batang tanaman yang dicampur enzim lebah. Propolis dihasilkan lebah jenis trigona.

”Pakan lebah apis adalah nektar dan lebah trigona adalah resin yang banyak terdapat di wilayah daerah tangkapan air (DTA) Danau Toba,” kata Aswandi. Nektar dan resin disediakan tanaman kemenyan seluas 23.592 hektar di kawasan DTA Danau Toba. Nektar juga disediakan tanaman kopi seluas 57.075 hektar di DTA Danau Toba.

Aswandi mengatakan, tiap koloni lebah trigona berdasarkan penelitian timnya di Simalungun dan Pakpak Bharat menghasilkan propolis 30-70 gram per minggu dan lebah apis menghasilkan 0,3 liter madu per dua minggu. Diperkirakan petani bisa mendapatkan hasil Rp 1,2 juta hingga Rp 2,4 juta per bulan. ”Propolis yang dihasilkan beraroma kemenyan, sementara tanaman kopi juga dilaporkan meningkat produktivitasnya karena bantuan lebah,” kata Aswandi.

Menurut Kepala BP2LHK Aek Nauli Pratiara, riset terus dilakukan sebagai upaya pengembangan ekonomi bagi masyarakat.
”Melalui inovasi parfum diharapkan nilai tambah getah kemenyan dapat ditingkatkan sehingga kita tidak perlu lagi hanya menjual dalam bentuk bahan mentah,” ujar Pratiara. Hutan kemenyan juga bisa menjadi lokasi budidaya lebah madu dengan sistem agroforestri dengan kopi. Produksi ini merupakan komoditas hasil hutan bukan kayu yang menjadi hajat hidup warga Tapanuli. (WSI)

Sumber: kompas.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll Up
%d bloggers like this: