Menu Close

Melestarikan Air untuk Kehidupan

Warga Desa Bea Murinf, Kecamatan Poco Ranaka, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur mengantre air di embung yang mengering karena cara pembangunan yang tidak tepat.

Matahari hanya tinggal sebaris merah di ufuk barat, akan tetapi rumah Damianus Jeot (62) di Desa Bea Muring, Kecamatan Poco Ranaka, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur masih gelap gulita. Ia dan keluarganya duduk di ruang tamu.

“Tunggu sebentar, ya. Musim kering seperti ini listrik memang lama baru hidup,” ujarnya, pertengahan September lalu.

Jarum jam hampir menunjukkan pukul 19.00 Wita ketika lampu neon di ruang tamu tiba-tiba berpijar. Hanya beberapa detik, kemudian mati lagi. Kejadian tersebut berulang tiga kali. Baru setelah itu lampu menyala, itupun hanya sampai pukul 22.00. Setelah itu, desa di wilayah dataran tinggi tersebut kembali gelap gulita.

Kualitas listrik yang dinikmati warga Bea Muring juga tidak konsisten. Aliran listrik yang tidak stabil mengakibatkan lampu berkedip-kedip sepanjang malam. Akibatnya, anak-anak susah membaca dan mengerjakan pekerjaan rumah di malam hari.

“Biasanya, saya menyuruh anak untuk mengerjakan PR sore-sore waktu masih ada matahari. Takut kalau malam-malam membaca buku dengan lampu yang kedip-kedip nanti matanya rusak,” tutur Edel (40), putri Damianus.

Begitu listrik hidup, Edel langsung membuka keran air untuk mengisi bak mandi. Air itu akan mereka hemat beberapa hari ke depan. Jika tidak, mereka terpaksa harus membawa jeriken dan mengantre untuk menadah air di mata air yang terletak lebih kurang 300 meter dari rumah.

Pembangkit listrik mikro hidro

Bagi masyarakat Paroki Santo Damiani, air merupakan kemewahan. Paroki ini mencakup enam dari 24 desa di Kecamatan Poco Ranaka, termasuk Bea Muring. Warga paroki belum bisa menikmati aliran air di rumah masing-masing.

Pada tahun 2011, Paroki Santo Damiani mendapat pastor kepala yang baru, yaitu Romo Marcelus Hasan. Melihat masyarakat yang kesulitan air dan listrik, Romo Marcel, demikian sapaan akrabnya, mengajak masyarakat berinisiatif membangun pembangkit listrik mikro hidro (PLTMH) di Sungai Wae Nuri yang berada sekitar 2 kilometer dari Bea Muring.

“Listrik penting agar masyarakat bisa lebih produktif. Anak-anak juga bisa belajar di malam hari,” tuturnya.

Butuh waktu berbulan-bulan untuk meyakinkan masyarakat yang skeptis keberadaan PLTMH memang bisa memberi perubahan positif. Kenyataannya, pada tahun 2012, Paroki Santo Damiani sudah bisa menikmati aliran listrik sendiri.

Selama musim hujan, listrik mengalir lancar karena debit air sungai besar. Listrik bisa menyala siang dan malam sehingga kegiatan ekonomi masyarakat bisa lebih produktif.

Sebaliknya, di musim kemarau, debut air berkurang drastis. Butuh waktu tujuh belas jam setiap hari di musim kemarau agar debit air mencapai ketinggian 1,5 meter. Setelah itu, warga yang dipercaya sebagai petugas operator PLTMH akan membuka pintu air dan mengalirkan air menggerakkan dinamo pembangkit listrik. Itu pun hanya sanggup memberi listrik selama tiga jam.

Untuk air minum, mandi, dan kebutuhan rumah tangganya juga demikian. Warga memiliki pipa air dari perusahaan air minum yang mengalirkan air dari Danau Rana Poja yang berjarak 15 kilometer dari Bea Muring. Pada musim kemarau, jangan harap air bisa lancar.

“Selain debit menurun, pipa dari Danau Rana Poja juga banyak yang rusak sehingga semakin ke bawah, jumlah air yang diterima warga semakin sedikit,” tutur Damianus.

Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, warga terpaksa mengantre di mata air Bea Muring. Sebenarnya, mata air tersebut di sekelilingnya sudah disemen oleh pemerintah daerah setempat agar bisa menjadi embung penampung air. Namun, dasar embung tidak disemen dan dibiarkan berupa tanah sehingga air malah terserap kembali. Tembok embung juga mengalami keretakan di beberapa sisi.

Walhasil, warga tetap harus antre berjam-jam. Butuh 1 menit dan 44 detik untuk mengisi jeriken yang berkapasitas lima liter. Biasanya, satu warga membawa enam hingga lima jeriken. Antrean mengambil air sudah dimulai sejak pukul 04.00 dan tidak berhenti hingga pukul 17.00 atau sebelum hari menjadi gelap.

“Air dari sumber yang sama juga dipakai untuk menyiram kebun sayur. Kalau musim kemarau panen berkurang hingga setengah di musim hujan. Padahal, kebun saya ukurannya tidak sampai setengah hektar,” keluh Videlis Vigis (42), warga.

Konservasi

Permasalahan utama sumber-sumber air di sekitar Paroki Santo Damiani adalah belum berjalannya konservasi air. Warga mengakui, mereka kerap menebang pohon di bantaran sungai dan mata-mata air untuk dijadikan bahan bangunan.
Akibatnya, bantaran sungai hanya ditutupi belukar dan paku-pakuan. Selain tidak bisa mengikat air, bantaran sungai juga sering longsor dan membuat penyempitan aliran air.

Paroki Santo Damiani kemudian terpilih menjadi salah satu dari dua wilayah di Indonesia yang mendapat bantuan dari Yayasan Coca Cola. Koordinator program yayasan tersebut, Agus Priyono, menjelaskan bahwa intervensi yang dilakukan cukup mendasar, yaitu menghijaukan kembali lahan di sekitar sumber air.

“Kami memilih bibit pohon-pohon buah agar yang diambil panen buahnya, bukan kayunya,” tuturnya. Selain itu, juga ditanam bambu sebagai pengganti kayu bangunan. Alasannya karena bambu hanya butuh waktu enam bulan untuk tumbuh dewasa dan siap diambil batangnya. Editor Tagar kompascetakkonservasi airNusa Tenggara Timurpltmh

Laraswati Ariadne Anwar, KOMPAS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll Up
%d bloggers like this: