Metode Destilasi

Sejarah Metoda Destilasi

Metoda Destilasi atau Teknik penyulingan dikenal sejak sekitar 2 abad sebelum Masehi oleh orang Babilonia yang dikenal sekarang sebagai Irak. Lalu Teknik penyulingan ini dikembangkan oleh bangsa Persia pada abad 8 sehingga lebih efektif untuk memisahkan campuran homogen menjadi zat-zat penyusunnya.

Teknik penyulingan tersebut dikembangkan dalam bentuk seperangkat alat penyuling yang disebut dengan Alembic dan Teknik ini menjadi inspirasi ahli kimia modern dalam melakukan penyulingan dan kemudian dinamakan metode penyulingan.

Apakah penyulingan itu? Fenomena destilasi sebenarnya banyak ditemukan dalam keseharian kita. Misalnya saat merebus air, dimana pada saat air mulai mendidih maka akan terbentuk uap air keluar dari lubang ketel. Jika uap ini dilewatkan atau dikenakan kepada benda yang lebih dingin ternyata secara spontan perubahan bentuk atau fase dari uap menjadi cair. Perubahan benda dari uap menjadi cair disebut dengan kondensasi. Peristiwa penguapan dan kondensasi telah dimanfaatkan oleh manusia dalam melakukan pemisahaan campuran homogen dan metode ini disebut dengan metode destilasi.

Bagaimanakah penerapannya?

Metode destilasi bekerja berdasarkan perbedaan titik didih dari zat-zat penyusunnya. Misalnya pada kejadian pemisahan garam dari air pada air laut. Pada larutan air laut, air memiliki titik didih lebih rendah sehingga akan menguap terlebih dahulu daripada garam yang memiliki titik didih lebih tinggi sehingga jika suhu larutan dipanaskan maka air akan mulai memisahkan diri dari larutan saat suhunya mencapai titik didihnya.

Uap air yang terbentuk tersebut lalu dikondensasikan atau didinginkan dengan cara memindahkan panasnya ke udara sehinggan uap akan kembali ke fase cairnya membentuk air murni (distilat).

Perkembangan saat ini alembic telah berkembang hingga menjadi alat penyulingan modern yang umum digunakan di laboratorium. Secara umum peralatan destilasi terdiri dari Bunsen, boiler, kondenser dan wadah penampung distilasi. Kondenser dilengkapi dengan lubang masuk air pendingin dan lubang keluar air pendingin, dimana keduanya memiliki fungsi untuk menghasilkan sirkulasi air dingin di dalam kondesnsor sehingga suhu kondensor tetap terjaga pada suhu yang lebih rendah daripada uap air.

Pada boiler terdapat thermometer yang bermanfaat untuk mengetahui perubahan suhu yang terjadi pada saat pemanasan. Jika boiler dipanaskan maka zat yang memiliki titik didih yang rendah akan menguap terlebih dahulu, dan uap tersebut akan dialirkan melewati kondensor untuk didinginkan dan mengembun menjadi titik-titik cairan. Kondensor menggunakan air sebagai pendingin karena air lebih baik baik dalam menyerap panas dibandingkan dengan udara.

Titik-titik cairan hasil kondensat akan ditampung dalam tabung penampung. Apabila pemanasan dilakukan terus sampai seluruh air dalam boiler menguap maka akan di dapatkan dua komponen larutan yang benar-benar terpisan satu sama lain yakni garam dan air murni.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *