PARMUALMUALON ATAU PETI MATI DALAM BUDAYA BATAK

PARMUALMUALON

Peti mati dalam budaya Batak disebut dengan istilah PARMUALMUALAN atau BATANG. Parmualmualan ini akan menjadi rumah abadi almarhum di dalam Bahasa Batak dikatakan sebagai Jabu Nasopinauli ni Tanganna. Parmualmualan ini biasanya dibuat dari satu batang utuh kayu besar ukurannya yang dibentuk sedemikian rupa sehingga mempunyai tempat yang dibentuk sehingga dapat memuat mayat almarhum. Karena terbuat dari satu kayu bulat utuh dalam Bahasa batak disebut hau sada.

Untuk membuat suatu parmualmualan harus melalui proses yang lama dengan berbagai tahap, dimulai dengan pemilihan bahan yang dipilih dari kayu yang keras. Sebagai bahan biasanya dibuat dari hau pinasa (nangka) atau dari hau hariara (jati). Sebelum di bentuk, kayu terlebih dahulu direndam beberapa lama di dalam air dengan tujuan agar kayu tersebut lebih awet dan tidak mudah termakan oleh rayap.

Kemudian dibentuk sehingga memiliki bentuk ruangan sebagai peti, dan setelah itu lalu dipahat dengan ornamen gorga. Ornamen gorga adalah seni pahatan Batak. Lalu diberi pewarnaan untuk memperindah pahatan gorga tersebut. Warna yang digunakan adalah merah, hitam dan putih yang merupakan warna Batak.

 

PARMUALMUALON
PARMUALMUALON

 

Karena dibuat dari kyu bulat utuh maka dalam pengerjaannya tidak memerlukan paku dan saaat menutup juga yang digunakan adalah pengikat rotan. Membuat benda ini membutuhkan kemampuan tukang yang sangat ahli dan memiliki kemampuan seni yang tinggi sehingga tidak semua orang bisa membuatnya. Untuk pembuatannya juga membutuhkan waktu yang sangat lama, sehingga harganya juga menjadi sangat mahal.

Karena mahal maka tidak semua orang mampu membuatbenda ini. Maka parmualmualon ini biasanya dipersiapkan bagi seseorang yang sudah cukup tua dan mapan, sehingga mampu untuk menyediakannya. Dan biasanya dipersiapkan jauh-jauh hari sebelum dia meninggal. Dan untuk mempersiapkan pembuatannya juga tidak boleh sembarangan karena seseorang yang akan memiliki parmualmualon harus terlebih dahulu memberitahu kepada para “raja” yang dilakukan secara adat dalam hubungan kekerabatan Batak yang dikenal dengan sebutan Dalihan Na Tolu.

Seseorang yang dibuatkan parmualmualan ini biasanya sudah tua atau dikenal dengan istilah “marpahompu di anak, marpahompu di boru sahat ro di na marnini marnono” dan dilakukan dalam suatu acara adat sambil memberi “sulangsulang hariapan” kepada si orang tua tersebut oleh para keturunannya. Dan kemudian saat seseorang yang meninggal yang sudah mempunyai parmualmualan akan diberangkatkan dengan adat Batak yang besar yang disebut dengan “pulik pangarapotna dan partuatna” dan diiringi dengan ogung Batak.

Inilah salah satu kekayaan budaya Batak yang memiliki makna dan kekayaan adat yang luar biasa!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll Up