Tanam porang bisa dapat Rp 3 miliar tak sampai 2 tahun, begini caranya

Mau dapat penghasilan lebih dari Rp 3 miliar dari lahan 1 hektare dalam waktu tak sampai dua tahun? Tanamlah porang. 

Sumatra Utara (Sumut) memiliki potensi besar untuk pengembangan tanaman umbi-umbian ini. Hasilnya bisa dibandingkan dengan komoditas perkebunan unggulan di provinsi ini, kelapa sawit.  

Idris Tampubolon, petani dan pakar porang dari Porang Sleman Boy, mengungkapkan hal itu saat ditemui di Forum Diskusi Porang di Pasar 12 Patumbak, Deli Serdang, akhir pekan lalu. 

Pria kelahiran Kisaran, Sumatra Utara, dan besar di Samarinda, Kalimantan Timur, ini penuh antusias menjelaskan potensi ekonomi budidaya porang.  

“Sumut ini sangat potensial. Lahan luas. Istilahnya pemodal di sini banyak. Kekurangannya hanya ilmu pengetahuan budidaya porang,” katanya.

“Saya sudah teliti itu di Sleman sampai tiga tahun dan pola itulah yang saya bawa ke Sumut. Dengan lahan satu hektare, katakanlah modal Rp 360 juta, bisa hasilkan Rp 3 miliar keuntungan bersih dalam dua musim (18 bulan),” ujar dia.

BUDI DAYA TANAMAN PORANG
© YUSUF NUGROHO BUDI DAYA TANAMAN PORANG

Cara dapat untung dari porang 

Idris menjelaskan, bagaimana cara mendapatkan keuntungan lebih dari Rp 3 miliar dari mengolah lahan satu hektare dengan tanaman porang. 

Biaya pengolahan lahan sekitar Rp 72,6 juta, pemupukan dan perawatan Rp 45,6 juta, bibit dan upah tanam Rp 163 juta, panen Rp 28 juta, dan tenaga kerja Rp 48 juta. 

Dia mengatakan, pada musim pertama, hasilnya bisa mencapai Rp 300 juta. Musim kedua naik menjadi Rp 960 juta. Sementara hasil umbi basah dua musim Rp 2 miliar, dengan total penghasilan Rp 3,34 miliar. 

Sehingga, pendapatan bersih dari total penghasilan dengan dikurangi modal adalah sebesar Rp 2,98 miliar. 

Idris menambahkan, dalam 1 hektare lahan, porang dengan pola Sleman Boy, yakni penanaman secara modern dan akal sehat ilmu pertanian, maka bisa menghasilkan 208 ton umbi dan 3,5 ton katak. 

“Bandingkan dengan sawit. Satu hektare porang dengan Sleman Boy, hasilnya lebih banyak dibanding 100 hektare sawit yang umurnya 20 tahun maksimal,” ungkapnya. 

Baca Juga: 

Lalu, menanam porang tidak perlu ada penebangan liar karena tidak membutuhkan lahan luas seperti kelapa sawit. “Satu keluarga dapat Rp 2 miliar tak sampai dua tahun, cukup 1 hektare,” kata dia. 

“Bahkan, dengan lahan 400 meter persegi dengan modal Rp 12 juta dalam dua tahun, bisa menghasilkan Rp 120 juta,” ujar pria yang meninggalkan profesi sebagai konsultan pajak demi porang.   

Namun demikian, Idris bilang, untuk berhasil dalam menanam porang, ada sejumlah catatan yang harus diperhatikan. Selama ini, dia menerapkan cara modern dan akal sehat ilmu pertanian. 

Oleh karena itu, mutu bibit haruslah yang baik, sehat, dan siap untuk ditanam. “Jangan pernah beli bibit karena harganya murah. Beli bibit yang bermutu,” tegasnya. 

“Maka, dua hingga tiga tahun ke depan, saya yakin Sumut dengan memakai pola kita, akan bisa mendekati bahkan mengimbangi produksi Jawa Timur atau Jawa Tengah, karena kita punya hamparan luas,” imbuh dia.  

Baca Juga: 

Potensi pasar 

Edy Effendi, pemilik Porang Sumatera Boy, mengatakan, ada 13 negara yang menunggu produksi porang. Sumut saat ini ada sekitar 300 hektare lahan penanaman porang.  

Dia mengaku memilih menanam porang karena tanaman ini sudah menjadi kebutuhan internasional. Ekspor porang sudah menembus Jepang, Korea Selatan, China, bahkan mulai berkembang ke Eropa, Amerika, dan Australia.  

“Bisnis porang ini agak unik. Hilir menanti, hulu tidak ada. Luar negeri sudah menunggu porang dari Indonesia, tapi produksi sangat terbatas. Maka sangat menarik untuk kita investasi dan ini peluang untuk meningkatkan devisa,” kata Edy. 

“Makanya, Menteri Pertanian dan Presiden mengangkat porang sebagai komoditas ekspor untuk dapatkan devisa negara,” ucapnya. 

Edy sudah bekerjasama dengan Porang Sleman Boy setelah sebelumnya ia berkeliling di Jawa untuk melihat penanaman porang, menemui ahli porang yang memiliki banyak pola pengembangan. 

Baca Juga: 

Namun, ia menemukan hal yang berbeda pada Porang Sleman Boy karena Idris Tampubolon bekerjasama dengan peneliti.  

“Penelitian porang ini paling banyak di UGM. Jadi yang dikembangkan Pak Idris didukung para peneliti, dan setelah itu hasil dari pengembangannya sangat signifikan sehingga menjanjikan,” ungkap Edy.  

Dengan modal Rp 12 juta saja dan lahan 400 meter persegi, tanaman porang bisa menghasilkan Rp 120 juta untuk petani profesional. Sementara untuk petani pemula bisa menghasilkan Rp 40 hingga Rp 50 juta. 

Menurut Idris, hal itu sudah dapat mengubah taraf hidup masyarakat. “Dari para pengamat ekonomi Indonesia, porang adalah bisnis jangka panjang, bukan musiman karena 80 persen untuk pangan, dan pangan untuk masa depan,” jelasnya. 

“Secara kebetulan porang hanya bisa dikembangkan di Asia Tenggara. Jepang, untuk budidaya ini cost-nya tinggi. Begitu juga dengan China. Ini anugerah untuk Indonesia karena bisa tumbuh subur,” kata dia.  

Bibit masih dari Jawa 

Soal ketersediaan bibit porang, untuk saat ini Sumut masih harus mendatangkannya dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di dua provinsi itu, Idris menyebutkan, lahan penanaman porang sudah mencapai ribuan hektare. 

Sedangkan Sumut masih sekitar 300 hektare dan baru dimulai satu-dua tahun terakhir. Sumut akan memiliki ketersediaan bibit pada tiga-empat tahun mendatang.  

Idris menambahkan, saat ini sudah ada lebih dari 3 hektare lahan yang sudah siap ditanami porang, dan 4,9 hektare lagi akan mulai ditanami porang pada September mendatang.

Sumber: kontan.co.id

ferryssn
Author: ferryssn

Leave a Comment