Ulos Sebagai Tenun Asli Batak

posted in: Art | 0

Ulos adalah tenun asli yang dimiliki oleh suku Batak. Ulos adalah sejenis kain yang bentuknya seperti selendang, yang merupakan suatu benda yang memiliki makna yang sangat penting bagi masyarakat suku Batak. Ulos memiliki makna sebagai suatu simbol persatuan, kasih sayang dan restu, yang didalam pepatah Batak yang diungkapkan dengan: “Ijuk pangihot ni hodongUlos pangihot ni holong“, yang artinya “ijuk adalah pengikat pelepah pada batangnya maka ulos adalah pengikat kasih sayang antara sesama“. Dari pengertiannya ungkapan itu adalah pepatah yang sangat indah.

Sesuai dengan kepercayaan leluhur suku Batak diketahui terdapat 3 sumber yang mampu memberi kehangatan, yaitu matahari, api dan ulos. Dari ketiga sumber kehangatan tersebut ulos dianggap paling dekat dengan kehidupan orang Batak. Secara umum, ulos merupakan pemberi kehangat kepada tubuh dan melindungi dari serangan udara dingin, mengingat bangsa Batak pada umumnya hidup di daerah pegunungan yang berhawa dingin, ulos menjadi penting bagi orang Batak.

Selain suku Batak Toba yang menggunakan Ulos, kain Ulos juga digunakan oleh rumpun Batak lainnya, hanya saja memiliki nama-nama yang berbeda, tapi pada dasarnya memiliki fungsi yang sama dalam adat-istiadat rumpun Batak.

Dalam masyarakat suku Batak Toba, Ulos, memiliki arti penting dalam pertemuan-pertemuan adat resmi. Selain itu ada kebiasaan para leluhur suku Batak yang selalu memilih ulos untuk dijadikan hadiah atau pemberian kepada orang-orang yang mereka sayangi. Kemudian ulos mempunyai makna simbolik untuk berbagai hal dalam segala aspek kehidupan orang Batak sehingga ulos menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan adat suku Batak.

Dalam adat batak terdapat kegiatan Mangulosi yang teramat penting dalam adat Batak. Mangulosi berarti memberikan ulos namun bukan sekadar menjadi pemberian hadiah biasa, karena Mangulosi mengandung arti yang cukup dalam melambangkan pemberian restu, curahan kasih sayang, harapan dan kebaikan dari pemberi kepada penerima ulos.

Terdapat aturan yang mengatur ritual mangulosi yang harus dipatuhi, antara lain bahwa seseorang hanya boleh mangulosi mereka yang menurut tutur atau silsilah keturunan berada di bawah, misalnya orang tua boleh mengulosi anaknya, tetapi anak tidak boleh mangulosi orang tuanya. Ada juga aturan bagaimana jenis ulos yang diberikan yang sesuai dengan ketentuan adat. Sebab masing-masing ulos memiliki makna tersendiri, kapan digunakan, disampaikan kepada siapa, dan dalam upacara adat yang bagaimana, sehingga fungsinya tidak bisa saling ditukar. Mengulosi menantu lelaki bermakna nasehat agar ia selalu berhati-hati dengan teman-teman satu marga, dan paham siapa yang harus dihormati; memberi hormat kepada semua kerabat pihak istri dan bersikap lemah lembut terhadap keluarganya. Ada juga ulos yang diberikan kepada wanita yang ditinggal mati suaminya sebagai tanda penghormatan atas jasanya selama menjadi istri almarhum. Pemberian ulos tersebut biasanya dilakukan pada waktu upacara berkabung, dan dengan demikian juga dijadikan tanda bagi wanita tersebut bahwa ia telah menjadi seorang janda. Ulos lain yang digunakan dalam upacara adat adalah Ulos Maratur dengan motif garis-garis yang menggambarkan burung atau banyak bintang tersusun teratur. Motif ini melambangkan harapan agar setelah anak pertama lahir akan menyusul kelahiran anak-anak lain sebanyak burung atau bintang yang terlukis dalam ulos tersebut.

Dalam perkembangannya, ulos juga diberikan kepada orang “non Batak”. Pemberian ini bermakna sebagai penghormatan kepada penerima ulos. Misalnya pemberian ulos kepada orang yang dihormati yang sedang berkunjung, atau kepada seorang pemimpin dengan harapan dapat menyelesaikan tugas sebagai abdi negara dengan baik dan penuh kasih sayang kepada rakyatnya.

Beberapa Cara Menggunakan Ulos

  • dihadanghon yakni dikenakan di bahu seperti selendang kebaya,
  • diabithon yakni dikenakan seperti kain sarung,
  • dililithon yaitu dililitkan di kepala atau di pinggang.

Berdasarkan besar kecil biaya pembuatannya, ulos dapat dibedakan menjadi 2 bagian:

  • Ulos Na Met-met yaitu ulos yang memiliki ukuran panjang dan lebarnya jauh lebih kecil daripada ulos jenis kedua. Tidak digunakan dalam upacara adat, hanya untuk dipakai sehari-hari.
  • Ulos Na Balga yaitu ulos kelas atas. Jenis ulos ini pada umumnya digunakan dalam upacara adat sebagai pakaian resmi atau sebagai ulos yang diserahkan atau diterima.

Macam-macam Ulos dan Fungsinya Yang Merupakan Tenun Asli Batak

Ulos Ragidup

Ulos Ragidup Silinggom

Ulos Ragidup Silindung

Ulos Bintang Marotur (Ulos Maratur)

Ulos ini paling banyak kegunaannya di dalam acara-acara adat Batak Toba yakni:

Kepada anak yang memasuki rumah baru. Keberhasilan membangun atau memiliki rumah baru di anggap sebagai salah satu bentuk keberhasilan atau prestasi tersendiri yang tak ternilai harganya. Ulos ini di daerah Silindung di berikan kepada orang yang sedang bergembira dalam hal ini sewaktu menempati atau meresmikan rumah baru.

Secara khusus di daerah Toba Ulos ini diberikan waktu acara selamatan Hamil 7 Bulan yang diberikan oleh pihak hula-hula kepada anaknya.

Ulos ini juga diberikan kepada Pahompu (cucu) yang baru lahir sebagai Parompa/gendongan yang memiliki arti dan makna agar anak yang baru lahir itu di iringi kelahiran anak yang  selanjutnya, kemudian ulos ini juga di berikan untuk pahompu (cucu) yang baru mendapat babtisan di gereja dan juga bisa di pakai sebagai selendang.

Ulos Godang (Ulos Sadum Anggola)

Ulos Ragi Hotang

Pemberian Ulos ini di berikan kepada sepasang pengantin yang sedang melaksanakan pesta adat yang di sebut dengan nama Ulos Hela memiliki makna bahwa orang tua pengantin perempuan telah menyetujui putrinya di persunting atau diperistri oleh laki-laki yang telah di sebut sebagai “Hela” (menantu). Pemberian ulos ini selalu di sertai dengan memberikan mandar Hela (Sarung Menantu) sebagai tanda laki-laki tersebut tidak boleh lagi berperilaku layaknya seorang laki-laki lajang tetapi harus berperilaku sebagai orang tua.

Ulos Sitolu Tuho 

Ulos ini di fungsikan atau di pakai sebagai ikat kepala atau selendang.

Ulos Bolean

Ulos ini umumnya di pakai sebagai selendang pada saat acara-acara kedukaan.

Ulos Sibolang

Ulos Mangiring

Ulos ini diberikan kepada anak cucu yang baru lahir terutama anak pertama yang memiliki maksud dan tujuan sebagai simbol besarnya keinginan agar si anak yang lahir baru kelak diiringi kelahiran anak yang berikutnya, Ulos ini juga dapat dipergunakan sebagai Parompa (alat gendong) untuk anak.

Ulos Sadum

Ulos Suri-Suri

Ulos ini di pergunakan oleh pihak Hula-hula (orang tua dari pihak istri) untuk manggabei (memberikan berkat) kepada pihak borunya (keturunannya) karena itu disebut juga Ulos gabe-gabe (berkat).

Ulos Padang Ursa dan Ulos Pinan Lobu-lobu

Di pakai sebagai Tali-tali dan Selendang atau pengikat, biasanya suku Batak menggunakannya sebagai parompa (kain ikatan gendongan).

Ulos Pinuncaan

Tenun asli Batak ini terdiri dari lima bagian yang ditenun secara terpisah yang kemudian disatukan dengan rapi hingga menjadi bentuk satu ulos. Kegunaannya antara lain:

  1. Di pakai dalam berbagai keperluan acara-acara duka cita maupun suka cita, dalam   acara adat ulos ini dipakai/ di sandang oleh Raja-Raja Adat.
  2. Di pakai oleh Rakyat Biasa selama memenuhi beberapa pedoman misalnya, pada pesta perkawinan atau upacara adat di pakai oleh suhut sihabolonon/ Hasuhuton (tuan rumah).
  3. Kemudian pada waktu pesta besar dalam acara marpaniaran (kelompok istri dari golongan hula-hula), ulos ini juga di pakai/ di lilit sebagai kain/ hohop-hohop oleh keluarga hasuhuton (tuan rumah).
  4. Ulos ini juga berfungsi sebagai Ulos Passamot pada acara Perkawinan. Ulos Passamot di berikan oleh Orang tua pengantin perempuan (Hula-hula) kepada ke dua orang tua pengantin dari pihak laki-laki (pangoli). Sebagai pertanda bahwa mereka telah sah menjadi saudara dekat.

 Ulos Ragi Huting

Ulos ini sekarang sudah Jarang di pakai, konon pada jaman dulu sebelum Indonesia merdeka, anak perempuan (gadis-gadis) memakai Ulos Ragi Huting ini sebagai pakaian sehari-hari yang dililitkan di dada (Hoba-hoba) yang menunjukkan bahwa yang bersangkutan adalah seorang putri (gadis perawan) batak Toba yang ber-adat.

Ulos Sibolang Rasta Pamontari

Ulos ini di pakai untuk keperluan duka dan suka cita, tetapi pada jaman sekarang, Ulos Sibolang bisa dikatakan sebagai simbol duka cita, yang di pakai sebagai Ulos Saput (orang dewasa yang meninggal tapi belum punya cucu) dan di pakai juga sebagai Ulos Tujung untuk Janda dan Duda dengan kata lain kepada laki-laki yang ditinggal mati oleh istri dan kepada perempuan yang di tinggal mati oleh suaminya. Apabila pada peristiwa duka cita Ulos ini dipergunakan maka hal itu menunjukkan bahwa yang bersangkutan adalah sebagai keluarga dekat dari orang yang meninggal.

Ulos Si bunga Umbasang dan Ulos Simpar

Secara umum ulos ini berfungsi dan di pakai sebagai Selendang bagi para ibu-ibu sewaktu mengikuti pelaksanaan segala jenis acara adat-istiadat yang kehadirannya sebatas undangan biasa yang di sebut sebagai Panoropi (yang meramaikan) .

Ulos Simarinjam sisi

Di pakai dan difungsikan sebagai kain dan juga di lengkapi dengan Ulos Pinunca yang di sandang dengan perlengkapan adat Batak sebagai Panjoloani (mendahului di depan). Yang memakai ulos ini adalah satu orang yang berada paling depan.

Ulos Ragi Pakko dan Ulos Harangan

Pada zaman dahulu tenun asli ini di pakai sebagai selimut bagi keluarga yang berasal dari golongan keluarga kaya,  dan itu jugalah apabila nanti setelah tua dan meninggal akan di saput (di selimutkan, dibentangkan kepada jasad) dengan ulos yang pakai Ragi di tambah Ulos lainnya yang di sebut Ragi Pakko  karena memang warnanya hitam seperti Pakko.

Ulos Tumtuman

Dipakai sebagai tali-tali yang bermotif dan di pakai oleh anak yang menunjukkan bahwa yang bersangkutan adalah anak pertama dari hasuhutan (tuan rumah).

Ulos Antak-Antak

Adalah ulos yang merupakan simbol dari duka cita, ulos ini digunakan ketika mengunjungi rumah duka atau melayat orang meninggal.Ulos ini dipakai sebagai selendang orang tua untuk melayat orang yang meninggal, selain itu ulos tersebut juga dipakai sebagai kain yang dililit pada waktu acara manortor (menari).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *