fbpx
Kain Ulos Khas Suku Batak
Culture & Art

Kain Ulos Khas Suku Batak: Filosofi, Jenis, dan Aturan Penggunaan

Kain Ulos merupakan salah satu pakaian adat Sumatera Utara yang biasa dipakai oleh masyarakat Suku Batak.

Kain Ulos berupa kain tenun berbentuk selendang yang dianggap sebagai simbol restu, kasih sayang, dan persatuan.

Masyarakat Batak menganggap kain ulos sebagai benda sakral, yang sejalan dengan semboyan mereka “Ijuk pangihot ni hodong, Ulos pangihot ni holong”.

Artinya: “jika ijuk adalah pengikat pelepah pada batangnya, maka Ulos adalah pengikat kasih sayang antar sesama”.

Filosofi Kain Ulos

Kain ulos ini sudah digunakan oleh masyarakat Batak sejak zaman dahulu.

Pria Batak biasa menggunakan setelan jas, lalu kain ulos yang dililitkan ke seluruh bagian tubuhnya.

Sementara kaum wanita biasanya mengenakan kebaya, yang diselaraskan dengan kain ulos yang telah dibuat menjadi rok.

Selain itu, ada pula ulos yang disampirkan di bahu sebagai selendang. Secara harfiah, ulos berarti kain selimut yang berfungsi untuk menghangatkan tubuh serta melindungi dari hawa dingin.

Adanya ulos ini menyimpan filosofi yang mendalam terkait keyakinan masyarakat Batak tentang kehidupan.

Nenek moyang masyarakat Batak meyakini tiga hal sebagai sumber kehidupan manusia, yaitu darah, nafas, dan kehangatan.

Dengan demikian, mereka meyakini manusia perlu kehangatan, yang bersumber dari tiga hal, yaitu matahari, api, dan ulos.

Lebih jauh, masyarakat Batak meyakini ulos jauh lebih fleksibel untuk digunakan sebagai penghangat tubuh.

Pasalnya, ulos tidak seperti matahari yang terbit dan terbenam, tidak pula seperti api yang tidak praktis digunakan.

Aturan Penggunaan Kain

Ulos Sebagai benda yang dianggap sakral dan memiliki filosofi yang mendalam, maka penggunaan ulos pun ada aturannya.

Aturan pertama menyebutkan bahwa ulos hanya diberikan kepada kerabat yang lebih muda, seperti orang tua kepada anak.

Aturan kedua, ulos yang diberikan harus sesuai dengan jenis dan peruntukannya, seperti Ulos Ragihotang hanya diberikan kepada menantu laki-laki.

Selain aturan pemberian, ulos juga memiliki aturan terkait penggunaannya, yaitu:

  • Siabithonon, dipakai di tubuh menjadi baju atau sarung. Ulos yang digunakan antara lain Ulos Ragidup, Sibolang, Runjat, hingga Ulos Jobit.
  • Sihadanghononhon, dipakai sebagai selendang di bahu. Ulos yang digunakan antara lain Ulos Sirara, Sumbat, Bolean, hingga Manggiring.
  • Sitalitalihononhon, dipakai sebagai ikat kepala. Ulos yang digunakan Tumtuman, Mangiring, Padang Rusa, dan sebagainya.

Jenis-jenis Kain Ulos Lihat

Kain ulos memiliki beragam motif dan jenis yang peruntukan dan penggunaannya berbeda-beda berdasarkan ketentuannya.

Berikut beberapa motif dan jenis kain Ulos:

1. Ulos Sibolang

Kain ulos ini sebagai tanda duka cita. Biasanya masyarakat Batak menggunakan ulos tersebut ketika sedang mengalamin sebuah duka dari keluarga dekat yang telah meninggal.

2. Ulos Ragidup

Kain ulos ini melambangkan kehidupan dan doa restu untuk kebahagiaan dalam hidup. Ulos Ragidup memiliki 3 bagian, 2 sisi ditenun dalam waktu yang sama, dan 1 bagian ditenun sendiri dengan motif yang lebih rumit.

3. Ulos Ragihotang

Kain ulos ini sering diberikan kepada sepasang pengantin yang sedang melaksanakan pesta adat. Ulos Ragihotang menjadi simbol orang tua pengantin perempuan telah merestui anak gadisnya telah disunting oleh laki-laki yang disebut Hela (menantu).

4. Ulos Antakantak

Kain ulos ini biasa digunakan orang tua sebagai selendang saat melayat orang yang meninggal. Namun, ada pula yang memakai ulos ini sebagai kaiin lilit untuk acara menari Adat Batak.

5. Ulos Ragihuting

Kain Ulos ini biasa dipakai oleh gadis dengan cara dililitkan di dada sebagai simbol gadis perawan Batak Toba yang beradat.

Sumber: Kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *